h1

Tarekat

29 komentar

  1. http://tijaniyahgarut.wordpress.com/buku-tamu/#comment-44


  2. http://icihbogor.wordpress.com/2007/12/13/membaca-kisah-abah-anom/


  3. BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
    (Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang)

    Allahumma Shalli ala saidina Muhammad wa’ala alihi washabihi ajma’in maka inilah mula-mula Thariqat Naqsabandiyah Mujadidiyah Khalidiyah, maka mewahyukan Allah Ta’ala kepada Jibril As. rahasia yang amat halus, disuruh berikan kepada Hambanya yang suci dan putus pengenalannya dan kuat yakin, kemudian maka turun Jibril ke Dunia, diberikan rahasia itu kepada Nabi kita, Nabi Muhammad SAW, dan daripadanya turun kepada sahabatnya:

    1. SAIDINA ABU BAKAR SIDDIQ Ra, dan daripadanya turun kepada:
    2. SAIDINA SULAIMAN Ra, Saidina Sulaiman itu setengah dari keluarga Rasulullah SAW, dan daripadanya turun kepada:
    3. SAIDINA SALMAN AL FARISY Ra, dan daripadanya turun kepada Imam:
    4. SAIDINA QASIM Ra, anak Saidina Abu Bakar Siddiq Ra, dan daripadanya turun kepada:
    5. IMAM JAKFAR MUHAMMAD SYARIF Ra, dan adalah Imam Jakfar itu anak cucu Saidina Ali KW, dan daripadanya turun kepada Sultan Arifin Syekh Taifur anak Aisyah, namanya yang masyhur:
    6. SAIDI SYEKH ABI YASID AL BUSTAMI Qs, dan daripadanya turun keramat beberapa Aulia Allah, yaitu:
    7. SYEKH ABIL HASAN KHARQANI Qs, dan daripadanya turun kepada sekalian kutub, yaitu:
    8. SYEKH ABI ALI SOMAD BIN SYEKH YUSUF HAMDANI Qs, dan daripadanya turun kepada wali:
    9. SYEKH ABDUL KHALIQ FAJDUANI Qs, dan daripadanya turun kepada kutub sekalian Aulia Allah, yaitu:
    10. SYEKH ARIF RIUKARI Qs, dan daripadanya turun kepada Hambanya Kepada sekalian Guru-guru, yaitu:
    11. SYEKH MUHAMMAD WALJIRI FAKNAWI Qs, dan daripadanya turun kepada Wali Arfani yang sangat kasih akan Tuhannya yang Ghani, yaitu:
    12. SYEKH LALAL RAMAISIR Qs, dan daripadanya turun kepada Penghulu sekalian Aulia Allah, yaitu:
    13. SYEKH BABA SAMASI Qs, dan daripadanya turun kepada Raja yang besar lagi saidi, ialah Kepala sekalian Guru-guru, yaitu:
    14. SYEKH SAID AMIN KILALI Qs, dan daripadanya turun kepada Aulia yang masyhur keramatnya dan makmur, ialah imam Thariqat Naqsabandiyah, Namanya:
    15. SYEKH MUHAMMAD BAHAUDDIN BUKHARI Qs, dan daripadanya turun kepada Penghulu sekalian Kutub Syekh Muhammad Bukhari, Namanya yang masyhur:
    16. SYEKH ALAUDDIN ATHARI Qs, dan daripadanya turun kepada:
    17. SYEKH ABDUL ALAHRAR RASMIPANDY Qs, dan daripadanya turun kepada Raja yang salih, ialah kepala sekalian Guru-guru, yaitu:
    18. SYEKH MUHAMMAD SYUHDI Qs, dan daripadanya turun kepada anak saudaranya yang besar dan martabat yang tinggi, yaitu:
    19. SYEKH MUHAMMAD DURSI Qs, dan daripadanya turun kepada anak Raja yang alim lagi lemah lembut perkataannya, yaitu:
    20. SYEKH MAULANA KHUJUKKI Qs, dan daripadanya turun kepada Aulia yang kutub:
    21. SYEKH MUHAMMAD BAQI Qs, dan daripadanya turun anak cucu Saidina Umar Ra, yang masyhur namanya karena keramatnya, yaitu:
    22. SYEKH AKHMAD FARKI ASIR HINDI Qs, yang dimasyhurkan namanya imam Rabbany Muhammadil Hasani dan daripadanya turun kepada anaknya yang tempat kepercayaannya yang menaruh rahasia, yaitu:
    23. SYEKH MUHAMMAD MAKSUM Qs, dan daripadanya turun kepada anaknya Sultan Aulia:
    24. SYEKH SYAIFUDDIN Qs, dan daripadanya turun kepada sinar yang gilang gemilang cahayanya, yaitu nyata zat dan sifat, yaitu:
    25. SAIDI SYEKH MUHAMMAD NUR BILAWANI Qs, dan daripadanya turun kepada Wali yang tinggi pangkat dan keramatnya, yaitu:
    26. SYEKH SYAMSIR ABDAIN HABIBULLAH JANJANAN AL MATHAR Qs, dan daripadanya turun kepada kepala sekalian Guru-guru dan kepala daripada sekalian Khalifah dan penghulu sekalian Aulia, yaitu:
    27. SYEKH ABDULLAH DAHLAWI HINDI Qs, dan daripadanya turun kepada anak cucu Saidina Usman Ibnu Affan Ra, ialah Syekh yang masyhur Ahli Thariqat Naqsabandiyah, kepada Gurunya itu maka fanafillah dan baqabillah, kemudian pada suluk lalu menjadi Penghulu khalifah, yaitu:
    28. SYEKH MAULAN DIAALHAQ WADDIN KURDI BAGDADI Qs, dan daripadanya turun kepada Arif-billah yang benci akan Dunia dan sangat kasih akan zat Allah Ta’ala, ialah kepala sekalian Guru-guru dalam negeri Mekkah, yang masyhur namanya:
    29. SYEKH ABDULLAH Qs, dan daripadanya turun kepada Penghulu sekalian Khalifah, yaitu mempunyai keramat yang nyata:
    30. SYEKH SULAIMAN QARIMI Qs, dan daripadanya turun kepada menantunya yang alim lagi shalih senantiasa tafakkur dan muraqabah, baqabillah siang dan malam kepada Tuhan Khaliqul Alam dan nyata dapat kesempurnaan dan kemuliaan, ialah Penghulu sekalian Khalifah dan Ikutan sekalian orang-orang suluk, yaitu mursyid:
    31. SYEKH SULAIMAN ZUHDI Qs, dan daripadanya turun kepada tempat yang sempurna suci kepada kemuliaan Allah Ta’ala dan menambah ia baginya, yaitu:
    32. SYEKH MAULANA IBRAHIM Qs, dan daripadanya turun kepada muridnya yang alim lagi shalih, senantiasa tafakkur dan muraqabah siang dan malam dan ikutan sekalian orang yang suluk, yaitu:
    33. SYEKH MAULANA ABDUL JALIL Qs, dan daripadanya turun kepada muridnya yang menambah ia, Allah Ta’ala akan derajatnya dan kuat melalui jalan kepada Allah Ta’ala, maka melebihkan Allah Ta’ala baginya karunianya, menambah ia selama berkhidmat akan Allah Ta’ala, barang siapa menuntut jalan kepada Allah Ta’ala kepadanya, pada kemudian menegakkan Allah Ta’ala atas orang yang hidup akan menambah yaqin zikir yang bathin dan syah, yang dikenal bagi yang kaya dan mencerdikkan bagi Allah Ta’ala baginya, dan mengambilkan Allah Ta’ala baginya orang yang suluk dengan Thariqat Naqsabandiyah Mujadidiyah Khalidiyah, Ummat Allah Ta’ala dan menyembunyikan akan dia Wali yang pilihan, yaitu Mursyid:
    34. SYEKH HAJI HARUN Qs, dan daripadanya turun kepada Muridnya yang pilihan yang sangat kasih akan Gurunya, akan Allah Ta’ala dan kuat menjalankan hakikat, dan kuat mengerjakan jalan berkhidmad (adab) dan menjadi ikutan orang yang suluk yang berthariqat, Thariqat Naqsabandiyah Mujadidiyah Khalidiyah, yaitu Mursyid:
    35. SYEKH AMIR DAMSAR SYARIF ALAM, dan daripadanya turun kepada anak Jasmani dan Ruhaninya, yang mengikut akan ayahandanya dan yang sangat kasih akan Ayahandanya, dan menjadi ikutan orang-orang yang suluk yang ber-Thariqat Naqsabandiyah Mujadidiyah Khalidiyah, yaitu Mursyid:
    36. SYEKH GHAZALI AN NAQSABANDY, atas ijin Allah yang maha suci Subhanallah-Subhanallah-Subhanallah

    Medan, 22 Mei 2003

    SAIDI SYEKH H.A.D. SYARIF ALAM

    http://www.jabalqubis.org/silsilah.php?menu=silsilah


  4. WIRID-WIRID TIJANIYYAH
    Posted by: admin, in Tashowwuf/Thoriqoh/Akhlak

    Wirid-wirid Tijaniyyah

    Banyak cara yang bisa dilakukan dan materi bacaan yang masyru’ dan ma’tsuroh bisa dipilih untuk dzikrulloh. Yang penting adalah disiplin dan teratur (istiqomah dan mudawamah) dalam melaksanakannya. Salah satu yang bisa membantu kita supaya bisa disiplin, istiqomah dan mudawamah dalam berdzikir adalah melaksanakan dzikir dengan mengikuti metode Syaikh Ahmad at-Tijaniy r.a. Dengan mengikuti metode ini dimungkinkan kita dapat melaksanakan kewajiban syariah dzikrulloh secara kontinyu dan konsisten, karena dzikir dalam metode Tijaniyyah ini jumlah bilangan dan materi bacaannya relatif sedikit dan mudah; sehingga bagi seorang awam, sibuk, atau “malas” sekalipun, insya Alloh akan bisa mengamalkannya secara disiplin, istiqomah dan mudawamah.

    Dzikir metode Tijaniy ini terdiri atas tiga jenis, yaitu Lazimah, Wazhifah dan Hailalah. Ketiga jenis wirid ini berintikan tiga materi bacaan, yaitu: istighfar, sholawat dan tahlil. Wirid Lazimah terdiri atas: istighfar (استغفرالله), sholawat (اللهم صل وسلم على سيدنا محمد وعلى اله), dan tahlil (لااله الاالله), masing-masing sebanyak 100 kali. Wirid ini dibaca tiap pagi dan sore hari. Wirid Wazhifah terdiri atas: istighfar 30 kali, sholawat Fatih 50 kali, Tahlil 100 kali dan Sholawat Jauharotul Kamal 12 kali. Wirid ini dibaca satu kali tiap sore hari. Wirid Hailalah, yaitu membaca لا اله الا الله, jumlahnya tidak terbatas, waktunya mulai sore hari sampai menjelang Maghrib; dibaca tiap hari Jum’ah. Pelaksanaan wirid Lazimah dianjurkan munfarid (sendiri-sendiri); sedangkan untuk Wadhzifah harian boleh sendiri-sendiri boleh juga berjamaah, dan untuk wirid Wazhifah dan Hailalah pada hari Jumat sore lebih baik jika dilakukan dengan berjamaah.

    Melaksanakan tiga jenis wirid ini tentu saja bertahap, tergantung pada kesanggupan masing-masing. Tahap yang paling awal (“mudah dan sederhana”) adalah wirid Lazimah. Bila sudah bisa konsisten dan disiplin mengamalkan wirid Lazimah ini, maka bisa ditingkatkan/ditambah dengan wirid-wirid Wazhifah dan Hailalah.

    Untuk memaksimalkan perolehan faidah dan fadhilah (bisyarot), sangat dianjurkan bagi orang yang hendak mengamalkan dzikir metode Tijaniyyah ini terlebih dahulu memperoleh pengetahuan, keterangan dan penjelasan (melalui tarbiyyah/talqin/ijazah) tentang dzikir ini dari pendahulu/senior (muqoddam) yang telah mengetahui banyak tentang dzikir Metode Tjaniy.

    Dengan mengamalkan dzikir metode Tijaniyyah ini tidak berarti menyisihkan dzikir-dzikir masyru’ dan ma’tsuroh yang lainnya atau mengabaikan amal-amal syariat. Malah sebaliknya, dengan mengamalkan dzikir metode Tijaniy ini Insya Alloh bisa menjadi pemicu semangat melaksanakan syariat-syariat Islam yang lainnya dengan lebih baik, dapat melaksanakan amal-amal ritual dan amal-amal sosial dengan lebih bergairah serta berakhlaqul karimah. Pendek kata, melalui dzikir ini diharapkan kualitas Iman, Islam dan Ihsan kita semakin meningkat; Insya Alloh.

    Dalam membaca wirid-wirid ini, baik Lazimah, Wazhifah, maupun Hailalah hendaklah dilakukan secara tartil, jangan terburu-buru, dan jangan salah membacanya baik dalam makhroj maupun i’rob. Selain itu, tatacara (adab) berdzikir pun, baik adab lahir maupun adab batin, mesti diperhatikan, antara lain:

    1. ikhlas, semata-mata karena Alloh swt.;
    2. bersih badan, pakaian, tempat;
    3. suci dari hadats dan najis;
    4. menghadap kiblat;
    5. tidak menyaringkan suara secara berlebihan, tapi hendaklah dengan suara lirih dan lembut;
    6. khusyu’, khudhur, tawadhdhu’;
    7. tidak ada gerakan dan goyangan badan atau kepala (secara berlebihan).


  5. SILAH THORIQOH QODIRIYYAH WA NAQSHABANDIYYAH

    Secara bersinambung

    41. Al Arif BillaaHh Hadrotusy-syaikh Ahmad Asrori Al Ishaqi
    Bertalqin dan berbai’at dari :
    40. Al Arif BillaaHh Hadrotusy-syaikh Muhammad ‘Utsman bin Nadiy Al Ishaqi
    Bertalqin dan berbai’at dari :
    39. Al Arif BillaaHh Hadrotusy-syaikh Abi Ishamuddiyn Muhammad Romliy At Tamimimiy
    Bertalqin dan berbai’at dari :
    38. Al Arif BillaaHh Hadrotusy-syaikh Kholil Rejoso
    Bertalqin dan berbai’at dari :
    37. Al Arif BillaaHh Hadrotusy-syaikh HasbullaaHh Madura
    Bertalqin dan berbai’at dari :
    36. Al Arif BillaaHh Hadrotusy-syaikh Ahmad Khothib As Sambasiy
    Bertalqin dan berbai’at dari :
    35. Al Arif BillaaHh Hadrotusy-syaikh Syamsuddiyn
    Bertalqin dan berbai’at dari :
    34. Al Arif BillaaHh Hadrotusy-syaikh Murod
    Bertalqin dan berbai’at dari :
    33. Al Arif BillaaHh Hadrotusy-syaikh Abdul Fattaah
    Bertalqin dan berbai’at dari :
    32. Al Arif BillaaHh Hadrotusy-syaikh Kamaluddiyn
    Bertalqin dan berbai’at dari :
    31. Al Arif BillaaHh Hadrotusy-syaikh Utsman
    Bertalqin dan berbai’at dari :
    30. Al Arif BillaaHh Hadrotusy-syaikh Abdur Rohiym
    Bertalqin dan berbai’at dari :
    29. Al Arif BillaaHh Hadrotusy-syaikh Abu Bakar
    Bertalqin dan berbai’at dari :
    28. Al Arif BillaaHh Hadrotusy-syaikh Yahya
    Bertalqin dan berbai’at dari :
    27. Al Arif BillaaHh Hadrotusy-syaikh Chisamuddiyn
    Bertalqin dan berbai’at dari :
    26. Al Arif BillaaHh Hadrotusy-syaikh Waliyuddiyn
    Bertalqin dan berbai’at dari :
    25. Al Arif BillaaHh Hadrotusy-syaikh Nuruddiyn
    Bertalqin dan berbai’at dari :
    24. Al Arif BillaaHh Hadrotusy-syaikh Zainuddiyn
    Bertalqin dan berbai’at dari :
    23. Al Arif BillaaHh Hadrotusy-syaikh Syarofuddiyn
    Bertalqin dan berbai’at dari :
    22. Al Arif BillaaHh Hadrotusy-syaikh Syamsuddiyn
    Bertalqin dan berbai’at dari :
    21. Al Arif BillaaHh Hadrotusy-syaikh Muhammad Al Hataki
    Bertalqin dan berbai’at dari :
    20. Al Arif BillaaHh Hadrotusy-syaikh Abdul ‘Aziyz
    Bertalqin dan berbai’at dari :
    19. Al Arif BillaaHh Hadrotusy-syaikh Abdul Qodir Al Jiylani
    Bertalqin dan berbai’at dari :
    18. Al Arif BillaaHh Hadrotusy-syaikh Abu Sa’id Al Mubarrok
    Bertalqin dan berbai’at dari :
    17. Al Arif BillaaHh Hadrotusy-syaikh Abu Hasan Ali Al Hakariy
    Bertalqin dan berbai’at dari :
    16. Al Arif BillaaHh Hadrotusy-syaikh Abul Faraj Al Thurthusiy
    Bertalqin dan berbai’at dari :
    15. Al Arif BillaaHh Hadrotusy-syaikh Abdul Wahid Al Tamimi
    Bertalqin dan berbai’at dari :
    14. Al Arif BillaaHh Hadrotusy-syaikh Abu Bakar As Shibliy
    Bertalqin dan berbai’at dari :
    13. Al Arif BillaaHh Hadrotusy-syaikh Abdul Qosim Junaiyd Al Baqhdadiy
    Bertalqin dan berbai’at dari :
    12. Al Arif BillaaHh Hadrotusy-syaikh Sari As Siqthi
    Bertalqin dan berbai’at dari :
    11. Al Arif BillaaHh Hadrotusy-syaikh Al Ma’ruf Al Karkhi
    Bertalqin dan berbai’at dari :
    10. Al Arif BillaaHh Hadrotusy-syaikh Abul Hasan Ali Ridlo
    Bertalqin dan berbai’at dari :
    9. Al Arif BillaaHh Hadrotusy-syaikh Musa Kadziym
    Bertalqin dan berbai’at dari :
    8. Al Arif BillaaHh Hadrotusy-syaikh Ja’far As Shodiyq
    Bertalqin dan berbai’at dari :
    7. Al Arif BillaaHh Hadrotusy-syaikh Imam Muhmmad Baqir
    Bertalqin dan berbai’at dari :
    6. Al Arif BillaaHh Hadrotusy-syaikh Zainul Abiddiyn
    Bertalqin dan berbai’at dari :
    5. Al Arif BillaaHh Sayyidina Husain RodliyallaaHhu ‘anHhu
    Bertalqin dan berbai’at dari :
    4. Al Arif BillaaHh Sayyidina Ali KarromallaaHhu WajHhaHh
    Bertalqin dan berbai’at dari :
    Sayyidil Mursaliyn wa Habiybi Robbil ‘aalamiyn, Rosul utusan AllaaHh kepada sekalian kepada Makhluk, yakni Sayyidina Muhammad saw
    3. RosuulullaaHh Muhammad saw
    Bertalqin dan berbai’at dari :
    2. Sayyidina Jibril AlaiHhis-salam
    Bertalqin dan berbai’at dari :
    1. AllaHh

    dikutib sesuai aslinya dari Kitab

    Al Khulashotul wa fiy-yaHh, fil Aadabi wa Kaifiy-yatidz-dzikri indas-saadatil QodiyiyyaHh Wan naqsyabandiyyaHh Al UtsmaniyyaHh

    http://airmatamursid.blogspot.com/2008_03_01_archive.htmlhttp://airmatamursid.blogspot.com/2008_03_01_archive.html


  6. Thariqah Qadiriyah Naqsyabandiyah

    Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah adalah perpaduan dari dua buah tarekat besar, yaitu Thariqah Qadiriyah dan Thariqah Naqsabandiyah. Pendiri tarekat baru ini adalah seorang Sufi Syaikh besar Masjid Al-Haram di Makkah al-Mukarramah bernama Syaikh Ahmad Khatib Ibn Abd.Ghaffar al-Sambasi al-Jawi (w.1878 M.). Beliau adalah seorang ulama besar dari Indonesia yang tinggal sampai akhir hayatnya di Makkah. Syaikh Ahmad Khatib adalah mursyid Thariqah Qadiriyah, di samping juga mursyid dalam Thariqah Naqsabandiyah. Tetapi ia hanya menyebutkan silsilah tarekatnya dari sanad Thariqah Qadiriyah saja. Sampai sekarang belum diketemukan secara pasti dari sanad mana beliau menerima bai’at Thariqah Naqsabandiyah.

    Sebagai seorang mursyid yang kamil mukammil Syaikh Ahmad Khatib sebenarnya memiliki otoritas untuk membuat modifikasi tersendiri bagi tarekat yang dipimpinnya. Karena dalam tradisi Thariqah Qadiriyah memang ada kebebasan untuk itu bagi yang telah mempunyai derajat mursyid. Karena pada masanya telah jelas ada pusat penyebaran Thariqah Naqsabandiyah di kota suci Makkah maupun di Madinah, maka sangat dimungkinkan ia mendapat bai’at dari tarekat tersebut. Kemudian menggabungkan inti ajaran kedua tarekat tersebut, yaitu Thariqah Qadiriyah dan Thariqah Naqsabandiyah dan mengajarkannya kepada murid-muridnya, khususnya yang berasal dari Indonesia.

    Penggabungan inti ajaran kedua tarekat tersebut karena pertimbangan logis dan strategis, bahwa kedua tarekat tersebut memiliki inti ajaran yang saling melengakapi, terutama jenis dzikir dan metodenya. Di samping keduanya memiliki kecenderungan yang sama, yaitu sama-sama menekankan pentingnya syari’at dan menentang faham Wihdatul Wujud. Thariqah Qadiriyah mengajarkan Dzikir Jahr Nafi Itsbat, sedangkan Thariqah Naqsabandiyah mengajarkan Dzikir Sirri Ism Dzat. Dengan penggabungan kedua jenis tersebut diharapkan para muridnya akan mencapai derajat kesufian yang lebih tinggi, dengan cara yang lebih mudah atau lebih efektif dan efisien. Dalam kitab Fath al-’Arifin, dinyatakan tarekat ini tidak hanya merupakan penggabungan dari dua tarekat tersebut. Tetapi merupakan penggabungan dan modifikasi berdasarkan ajaran lima tarekat, yaitu Tarekat Qadiriyah, Tarekat Anfasiyah, Junaidiyah, dan Tarekat Muwafaqah (Samaniyah). Karena yang diutamakan adalah ajaran Tarekat Qadiriyah dan Tarekat Naqsyabandiyah, maka tarekat tersebut diberi nama Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah. Disinyalir tarekat ini tidak berkembang di kawasan lain (selain kawasan Asia Tenggara).

    Penamaan tarekat ini tidak terlepas dari sikap tawadlu’ dan ta’dhim Syaikh Ahmad Khathib al-Sambasi terhadap pendiri kedua tarekat tersebut. Beliau tidak menisbatkan nama tarekat itu kepada namanya. Padahal kalau melihat modifikasi ajaran yang ada dan tatacara ritual tarekat itu, sebenarnya layak kalau ia disebut dengan nama Tarekat Khathibiyah atau Sambasiyah, karena memang tarekat ini adalah hasil ijtihadnya.

    Sebagai suatu mazhab dalam tasawuf, Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah memiliki ajaran yang diyakini kebenarannya, terutama dalam hal-hal kesufian. Beberapa ajaran yang merupakan pandangan para pengikut tarekat ini bertalian dengan masalah tarekat atau metode untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Metode tersebut diyakini paling efektif dan efisien. Karena ajaran dalam tarekat ini semuanya didasarkan pada Al-Qur’an, Al-Hadits, dan perkataan para ‘ulama arifin dari kalangan Salafus shalihin.

    Setidaknya ada empat ajaran pokok dalam tarekat ini, yaitu : tentang kesempurnaan suluk, tentang adab (etika), tentang dzikir, dan tentang murakabah.
    http://www.suryalaya.org/tqn1.html


  7. SILSILAH THORIQOH QODIRIYYAH WA NAQSHABANDIYYAH

    Secara bersinambung

    41. Al Arif BillaaHh Hadrotusy-syaikh Ahmad Asrori Al Ishaqi
    Bertalqin dan berbai’at dari :
    40. Al Arif BillaaHh Hadrotusy-syaikh Muhammad ‘Utsman bin Nadiy Al Ishaqi
    Bertalqin dan berbai’at dari :
    39. Al Arif BillaaHh Hadrotusy-syaikh Abi Ishamuddiyn Muhammad Romliy At Tamimimiy
    Bertalqin dan berbai’at dari :
    38. Al Arif BillaaHh Hadrotusy-syaikh Kholil Rejoso
    Bertalqin dan berbai’at dari :
    37. Al Arif BillaaHh Hadrotusy-syaikh HasbullaaHh Madura
    Bertalqin dan berbai’at dari :
    36. Al Arif BillaaHh Hadrotusy-syaikh Ahmad Khothib As Sambasiy
    Bertalqin dan berbai’at dari :
    35. Al Arif BillaaHh Hadrotusy-syaikh Syamsuddiyn
    Bertalqin dan berbai’at dari :
    34. Al Arif BillaaHh Hadrotusy-syaikh Murod
    Bertalqin dan berbai’at dari :
    33. Al Arif BillaaHh Hadrotusy-syaikh Abdul Fattaah
    Bertalqin dan berbai’at dari :
    32. Al Arif BillaaHh Hadrotusy-syaikh Kamaluddiyn
    Bertalqin dan berbai’at dari :
    31. Al Arif BillaaHh Hadrotusy-syaikh Utsman
    Bertalqin dan berbai’at dari :
    30. Al Arif BillaaHh Hadrotusy-syaikh Abdur Rohiym
    Bertalqin dan berbai’at dari :
    29. Al Arif BillaaHh Hadrotusy-syaikh Abu Bakar
    Bertalqin dan berbai’at dari :
    28. Al Arif BillaaHh Hadrotusy-syaikh Yahya
    Bertalqin dan berbai’at dari :
    27. Al Arif BillaaHh Hadrotusy-syaikh Chisamuddiyn
    Bertalqin dan berbai’at dari :
    26. Al Arif BillaaHh Hadrotusy-syaikh Waliyuddiyn
    Bertalqin dan berbai’at dari :
    25. Al Arif BillaaHh Hadrotusy-syaikh Nuruddiyn
    Bertalqin dan berbai’at dari :
    24. Al Arif BillaaHh Hadrotusy-syaikh Zainuddiyn
    Bertalqin dan berbai’at dari :
    23. Al Arif BillaaHh Hadrotusy-syaikh Syarofuddiyn
    Bertalqin dan berbai’at dari :
    22. Al Arif BillaaHh Hadrotusy-syaikh Syamsuddiyn
    Bertalqin dan berbai’at dari :
    21. Al Arif BillaaHh Hadrotusy-syaikh Muhammad Al Hataki
    Bertalqin dan berbai’at dari :
    20. Al Arif BillaaHh Hadrotusy-syaikh Abdul ‘Aziyz
    Bertalqin dan berbai’at dari :
    19. Al Arif BillaaHh Hadrotusy-syaikh Abdul Qodir Al Jiylani
    Bertalqin dan berbai’at dari :
    18. Al Arif BillaaHh Hadrotusy-syaikh Abu Sa’id Al Mubarrok
    Bertalqin dan berbai’at dari :
    17. Al Arif BillaaHh Hadrotusy-syaikh Abu Hasan Ali Al Hakariy
    Bertalqin dan berbai’at dari :
    16. Al Arif BillaaHh Hadrotusy-syaikh Abul Faraj Al Thurthusiy
    Bertalqin dan berbai’at dari :
    15. Al Arif BillaaHh Hadrotusy-syaikh Abdul Wahid Al Tamimi
    Bertalqin dan berbai’at dari :
    14. Al Arif BillaaHh Hadrotusy-syaikh Abu Bakar As Shibliy
    Bertalqin dan berbai’at dari :
    13. Al Arif BillaaHh Hadrotusy-syaikh Abdul Qosim Junaiyd Al Baqhdadiy
    Bertalqin dan berbai’at dari :
    12. Al Arif BillaaHh Hadrotusy-syaikh Sari As Siqthi
    Bertalqin dan berbai’at dari :
    11. Al Arif BillaaHh Hadrotusy-syaikh Al Ma’ruf Al Karkhi
    Bertalqin dan berbai’at dari :
    10. Al Arif BillaaHh Hadrotusy-syaikh Abul Hasan Ali Ridlo
    Bertalqin dan berbai’at dari :
    9. Al Arif BillaaHh Hadrotusy-syaikh Musa Kadziym
    Bertalqin dan berbai’at dari :
    8. Al Arif BillaaHh Hadrotusy-syaikh Ja’far As Shodiyq
    Bertalqin dan berbai’at dari :
    7. Al Arif BillaaHh Hadrotusy-syaikh Imam Muhmmad Baqir
    Bertalqin dan berbai’at dari :
    6. Al Arif BillaaHh Hadrotusy-syaikh Zainul Abiddiyn
    Bertalqin dan berbai’at dari :
    5. Al Arif BillaaHh Sayyidina Husain RodliyallaaHhu ‘anHhu
    Bertalqin dan berbai’at dari :
    4. Al Arif BillaaHh Sayyidina Ali KarromallaaHhu WajHhaHh
    Bertalqin dan berbai’at dari :
    Sayyidil Mursaliyn wa Habiybi Robbil ‘aalamiyn, Rosul utusan AllaaHh kepada sekalian kepada Makhluk, yakni Sayyidina Muhammad saw
    3. RosuulullaaHh Muhammad saw
    Bertalqin dan berbai’at dari :
    2. Sayyidina Jibril AlaiHhis-salam
    Bertalqin dan berbai’at dari :
    1. AllaHh

    dikutib sesuai aslinya dari Kitab

    Al Khulashotul wa fiy-yaHh, fil Aadabi wa Kaifiy-yatidz-dzikri indas-saadatil QodiyiyyaHh Wan naqsyabandiyyaHh Al UtsmaniyyaHh


  8. Rantai Silsilah Washitah Syaththariyah

    Junjungan Nabi Muhammad SAW (609–632 M) kepada:

    Periode I

    1. Imam Ali bin Abu Thalib As (632 – 661 M)

    Periode II

    2. Imam Hasan Asy Syahid As (661 – 670 M)

    Periode III

    3. Imam Husain As (670 – 684 M)

    Periode IV

    4. Imam Zainal Abidib As (684 – 718 M)

    Periode V

    5. Imam Muhammad Al Baqir As (718 – 771 M)

    Periode VI

    6. Imam Ja’far Shodiq As (737 – 771)

    7. Imam Musa Al Kadzim As (771 – 806 M)

    8. Imam Ali bin Imam Musa Al Kadzim (806 – 826 M)

    9. Imam Muhammad Al Jawad As (826 – 843 M)

    10. Imam Ali bin Muhammad Al Hadi (843 – 877 M)

    11. Imam Abu Yazid Al bustomi (mendapat ijin dari Imam Ali bin Muhamamad memberi petunjuk ilmu pintunya mati)

    12. Imam Hasan Al Askari As (877 – 883 M)

    13. Imam Al Mahdi Al Muntadzar As. (883 – 955 M), demi ke-selamatan dari ancaman pembunuhan oleh penguasa maka atas kehendak dan petunjuk Allah SWT disembunyikan pada tempat yang aman hingga selamat 69 tahun tugas beliau dijalankan oleh empat orang wakil berturut-turut (883 – 952 M) yaitu : Usman bin Saad Al Umari Al Asadi, Muhammad bin Usman, Al Husain bin Ruh Al Naubati dan Ali bin Muhammad Al Samir

    Periode VII

    14. Syekh Muhammad Al Maghribi As (955 – 1007 M)

    15. Syekh Arabi Al Asyiqi As (1007 – 1074 M)

    16. Syekh Qutb Maulana Rumi Ath Thusi As (1074 – 1132 M)

    17. Syekh Qutb Abu Hasan Al Hirqon As (1132 – 1176 M).

    18. Syekh Hud Qaliyyu Mawaran Nahar As (1176 – 1249)

    19. Syekh Muhammad Asyiq As (1249 – 1312)

    20. Syekh Muhammad Arif As (1312 – 1376)

    Periode VIII

    21. Syekh Abdullah Asy Syaththar As (1376 – 1429)

    22. Syekh Hidayatullah Saramat As (1429 – 1464)

    23. Syekh Al Hajji Al Hudhuri As (1464 – 1520)

    24. Syekh Muhammad Al Ghauts Hataruddin As (1520 – 1562)

    25. Syekh Wajhuddin As (1562 – 1580)

    26. Syekh Saifullah bin Syekh Ruhullah As ( 1580 – 1601)

    27. Syekh Ibnu Mawahib Abudllah Ahmad bin Ali Isa (1601 – 1620)

    28. Syekh Muhammad Ibnu Muhammad As (1620 – 1652)

    Periode IX

    29. Syekh Abudrrauf As, Aceh ( 1652 – 1690)

    30. Syekh Abdul Muhyi As. Pamijahan (1690 – 1718)

    31. Syekh Mas Bagus Muhyidin As, Pamijahan ( 1718 – 1726)

    32. Syekh Mas Bagus Nida As. Pamijahan ( 1726 – 1735)

    33. Kiyai Mas Muhammad Sulaiman As (Pangeran Atas Angin I), Bagelen Jateng ( 1735 – 1749). Sebelum beliau istiqomah domisilinya, oleh Gurunya dan atas kehendak dan petunjuk Allah Swt, tugas untuk memberikan petunjuk Ilmu pintunya mati dititipkan kepada Kiayai Mustahal Surakarta.

    Periode X

    34. Mas Bagus Nuriman As (Pangeran Atas Angin II), Bagelen Jawa Tengah (1749 – 1769).

    35. Kiyai Kun Nawi As. (Pangeran Atas Angin III), Bagelen Jateng ( 1769 – 1780).

    36. Kiyai Ageng Margono As (Raden Margono, Kiayi Mas Bagus Muhyi Al Jawi), Kincang Maospati (1780 – 1799), yang sebelum domisilinya istiqomah, oleh Gurunya dan atas kehendak dan petunjuk Allah Swt, tugas untuk memberikan petunjuk Ilmu pintunya mati dititipkan kepada Kiayi Mas Bagus Amaddi, Tulungagung.

    37. Kiayi Ageng Rendeng As (Kiayi Mas Bagus Ahmad Kusen), Maospati (1799 – 1811)

    38. Kiyai Ageng Sepet Aking As ( Kiyai Mas Bagus Ahmad Kasan), Maospati (1811 – 1820).

    39. Kiayi Ageng ‘Aliman As, Pacitan (1820 – 1827)

    40. Kiayi Ageng Ahmadiya As. Pacitan (1827 – 1836)

    41. Kiayi hajji Abdurrahman As., Tegalerejo Magetan (1836 – 1854).

    Periode XI

    42. Nyai Ageng Harjobesari As, Tegalrejo Magetan (1854 – 1876), yang sebelum domisilinya istiqomah, oleh Gurunya dan atas kehendak dan petunjuk Allah Swt, tugas untuk memberikan petunjuk Ilmu pintunya mati dititipkan kepada Kiayi Ageng Wignyowinata Caruban Madiun dan karena beliau ini perempuan maka mempunyai delapan orang wakil yang semuanya laki-laki termasuk suaminya.

    43. Kiayi Hasan Ulama As, Takeran Magetan (1876 – 1916).

    44. Kiayi Haji Imam Muttaqin As, Takerang Magetan (1916 – 1936), atas pentunjuk Allah Swt dan izin Gurunya diserahkan sementara/dititipkan kepada Kiayi Abdul Syukur; Takeran, kemudian dikembalikan kepada,

    45. Kiayi Imam Mursyid MuttaqinAs, Tekeran Magetan ( 1936 – 1948).

    46. Kiyai Muhammad Kusnun Malibari As, Tanjung Anom Nganjuk (1948 – 1979).

    Periode XII

    47. Kiayi Haji Mohammad Munawwar Affandi, Tanjung Anom Nganjuk ( 1979 – sekarang)

    48. Tengah dipersiapkan sebagai calon penerus.

    http://www.pondoksufi.or.id/index.php?option=com_content&task=view&id=11&Itemid=9


  9. http://www.mevlanasufi.blogspot.com/


  10. DINAMIKA KEISLAMAN MASYARAKAT MINANGKABAU DI PERTENGAHAN ABAD KE-19

    Januari 26, 2008 oleh yerri

    studi atas kitab inilah sejarah ringkas syekh paseban assyattari rahimahullah

    ta’ala anhu

    Di dua tulisan saya sebelumnya, yang telah diterbitkan media ini, telah disampaikan secara singkat tetang riwayat hidup Syekh Paseban Assyattari Rahimahullah Ta’ala Anhu, seorang ulama dari golongan tua, yang berithikad kepada tarekat Syattariyyah, dan surau serta warisannya yang berharga yakni manuskrip. Dan, setelah dipertimbangkan, sangat pelit rasanya apabila saya tidak pula meyampaikan suatu pandangan ilmiah mengenai bangunan teks, serta kondisi kontekstual yang mempengaruhi teks kitab Inilah Sejarah Ringkas Syekh Paseban Assyattari Rahimahullah Ta’ala Anhu (SP).

    Berbagai sumber menyebutkan, pada abad ke-12/13, agama Islam masuk ke Sumatra Barat, ialah Syekh Burhanuddin, atau Burhân Al-Dîn atau Tuanku Ulakan (w. 1056-1104/1646-1692), murid dari Syekh Abd. Al Ra’ûf Al-Sinkilî (w. 1024-1105/1615-1693), yang membawa dan mengembangkannya. Dimulai pertama kalai di seputar wilayah rantau Pariaman, kemudian meluas ke daerah lainnya di Sumatra Barat. Navis (1980), menyebutkan bahwa perkembangan agama Islam di Sumatra Barat, dari dari faham yang pertama hingga masuknya faham baru, berlangsung selama kurang lebih limapuluh tahun. Namun, apabila ditilik dari sumber-sumber lainnya, maka, jarak antara masa Syekh Burhân Al-Dîn dengan masuknya ideologi keislaman setelahnya yakni Naqsyabandiyyah, adalah berkisar 127 tahun (Fathurahman, 2003).

    Di Aceh, Al-Sinkilî, dalam mengajarkan agama Islam, juga memeperkenalkan, menerapkan azas-azas dan aturan-aturan organisasi tarekat, yakni Syattariyyah. Di Sumatra Barat, oleh Burhân Al-Dîn aliran Syattariyah berkembang dengan pesat. Di tempat lainnya di Indonesia, walaupun agak lambat, tarekat ini juga diajarkan, kuat dugaan bahwa tarekat ini dibawa oleh murid-murid Al-Sinkilî yang lainnya, yang memang pada waktu itu tidak hanya memiliki seorang Burhân Al-Dîn. Azra (2004:256) mencatat bahwa sejak di Haramayn, Abd. Al Ra’ûf Al-Sinkilî, telah memiliki banyak murid. Murid-murid tersebut menyebar keseluruh pelosok bumi. Sayangnya, Azra tidak memiliki data pasti siapa murid-murid Al-Sinkilî di Haramayn tersebut. Di Indonesia, ia memiliki beberapa murid, seperti, Burhân Al-Dîn (Minangkabau), ‘Abd. Al-Muhyi (Jawa Barat), ‘Abd. Al-Mâlik b. Abd. Allâh (Semenanjung Malaya), dan yang paling terkenal yaitu, Dâwûd Al-Jâwî Al-Fansûrî b. ‘Islâmîl b. Agha Mushthafâ b. Agha ‘Alî Al-Rûmî (Aceh).

    Perkembangan agama Islam yang cepat tersebut, tidak lain dikarenakan kandungan unsur-unsur animisme dan mistik dalam ajarannya. Yatim (2002:202) menyebutkan bahwa para sufi Timur Tengah mendapatkan kemudahan dalam menyebarkan agama Islam, karena adanya sinkronisasi antara kepercayaan Hindu yang dianut oleh penduduk pribumi dengan ajaran tasawuf yang dibawa oleh para sufi tersebut. Salah satu ajaran tasawuf yang kontroversial yakni martabat tujuh. Dalam ajaran martabat tujuh disebutkan bahwa yang dimaksud wujud itu hanya satu walau kelihatannya banyak. Wujud yang satu itu memiliki dua dimensi yakni, dimensi batin (isi) dan dimensi lahir (kulit). Semua benda yang tampak adalah manifestasi dari dimensi batin, yaitu wujud yang hakiki, Allah S.W.T. Wujud yang hakiki itu mempunyai tujuh martabat, yakni 1). Ahadiyah, wujud hakiki Allah S.W.T., 2). Wahdah, hakikat Muhammad, 3). Wahidiyah, hakikat Adam, 4). Alam Arwah, hakikat nyawa, 5). Alam Mitsal, hakikat segala bentuk, 6). Alam Ajsam, hakikat tubuh, 7). Alam Insan, hakikat manusia. Kesemuanya bermuara pada yang satu, yakni Ahadiyah, Allah S.W.T. Akan tetapi, tidak banyak dari para pengikut Syattariyyah dapat memahami ajaran tersebut. Bahkan, tak jarang banyak pengikut yang keliru menginterpretasikannya. Akibatnya, sering terjadi benturan konsep antar sesama pengikut. Fathurrahman (2002), mengatakan bahwa kesalahfahaman terhadap ajaran-ajaran tasawuf tersebut muncul dari bawah -orang awam- yang kesulitan memahami ajaran-ajaran tasawuf yang sangat filosofis, sehingga mereka menginterpretasikannya secara sederhana. Di kalangan para sufi sendiri, perbedaan interpretasi ajaran-ajaran tasawuf tersebut, diakui akan dapat mengganggu atau bahkan menyesatkan para murid. Azra (2004: 357), mengatakan bahwa para pengikut ajaran tasawuf itu membutuhkan waktu relatif lama untuk menguasai kemurnian ajaran tasawuf. Mereka dituntut untuk patuh secara penuh, lahir maupun batin, terhadap ajaran ortodoksi Islam, atau yang lebih tepat lagi kepada syari’at. Karena menurut para ulama tersebut, mustahil bagi para murid mencapai tujuan spritualnya tanpa mematuhi sepenuhnya doktrin ortodoks Islam. Akibatnya, para murid menjadi pasif karena mereka telah menarik diri (‘uzlah) dari masalah duniawi untuk menguasai ajaran tasawuf. Akibat yang lebih buruk dari sikap pelarian diri (escapism) itu adalah kemunduran sosial ekonomi dan politik umat muslim. Secara religius, ajaran ini dituduh sebagai sumber bid’ah dan takhayyul atau khurâfât. Di dalam kitab SP, kontroversi mengenai ajaran tasawuf tersebut ditemukan di dalam teks di bagian perdebatan antara Syekh Paseban Angku Calau membahas faham martabat tujuh.

    /… Maka pada suatu hari, pergilah Angku Paseban dengan tiga orang muridnya menemui Angku Calau di Muara Sijunjung. Tiba di Calau, waktu Maghrib telah masuk, maka beliau sembahyang saja di tepi air bersama murid yang bertiga itu. Sudah sembahyang Magrib, barulah beliau naik ke surau. Menjelang sampai di surau beliau berkata kepada murid yang bertiga itu. Kata beliau, “Di atas surau nanti, kita sama saja, tidak seperti guru dengan murid.” Pagi-pagi beresoknya, orang sama minum. Beliau Angku Paseban minum sama pula Angku Calau. Maka, bertanya Angku Calau, “Dari mana?” Dijawab oleh Angku Paseban, “Kami dari Lubuk Alung.” Setelah selesai minum, ber[ceramah]ceramahlah Angku Calau dengan Angku Paseban.//Akhirnya sampai ceramah itu kepada persolaan martabat tujuh. Maka dibahaslah oleh Angku Paseban, maka terjadilah kekandasan …/(Al-Khatib.2001:21-22).

    Masuknya ideologi baru

    Selanjutnya, di akhir abad ke-18 hingga berlanjut awal abad ke-19, dinamika keislaman masyarakat Minangkabau di Sumatra Barat memasuki masa-masa yang sangat dinamis. Kelompok-kelompok Islam konservatif Syattarriyyah, memperoleh tantangan dari kelompok-kelompok Islam konservatif lainnya, yakni Naqsyabandiyyah. Fathurahman (2003) menyebutkan bahwa serangkaian ketegangan antara Syattariyyah dan Naqsyabandiyyah yang terjadi itu, tidak saja menyangkut persoalan perbedaan faham dan ajaran semata, melainkan diantara keduanya saling rebutan kehormatan dan pengikut. Syekh Jalaluddin, seorang ulama di Cangkiang misalnya, telah berhasil mendapatkan simpati dari para pengikut tarekat Syattariayah, hingga mereka sudi berpindah ke Nakhsyabandiyah. Hal tersebut, tentu saja membakar emosi para ulama atau guru-guru Syattariyah.

    Adapun persoalan-persoalan yang sering menjadi bahan perdebatan antara tarekat Naqsybandiyyah dengan Syathariyyah adalah menyangkut penetapan awal dan akhir Ramadhan. Saat ini, terutama di sekitar Padang Panjang dan di Pariaman, perbedaan tersebut masih juga terjadi. Biasanya, para penganut Syathariyyah merayakan puasa Ramadan dua hari kemudian setelah para penganut tarekat Naqsybandiyyah merayakannya, sehingga karenanya mereka mendapatkan julukan “orang puasa kemudian”, sementara tarekat Naqsybandiyyah disebut orang sebagai “orang puasa dahulu”.

    /…..Maka diundangnya Syekh Paseban ke kantornya menghadiri pertemuan itu. Dalam pertemuan itu, mula pertama memberi pengajian Inyiak Rasul. Dalam pengajian itu akhirnya sampai ke soal puasa, “Yang kita sayangkan di masa sekarang, zaman telah maju tetapi sebahagian kita masih suka juga di zaman bodoh. Apa sebabnya? Kalau dahulu kita akan masuk puasa tilik dahulu bulan, kalau sudah tampak baru kita puasa. Melihat bulan itu ke tempat yang tinggi, ke atas bukit, itu pekerjaan berbahaya mendatangkan penyakit. Mana contohnya? Kita pergi ke atas bukit, di situ tidak ada dangau tempat berteduh, dalam kita menanti-nanti bulan, ada badai gadang dan hujan, kita dangau tidak ada, terpaksalah basah kuyub, tiba di rumah bangkit kuro. Padahal sekarang telah ada almanak, telah tentu satu Ramadhan, tidak mendaki bukit dan tidak berhujan-hujan dan tidak kedinginan. Tidaklah bodoh namanya itu, yang mudah sudah ada kita pakai juga yang sukar lagi berbahaya.”

    Maka mengusul Syekh Paseban, kata beliau, “itu keterangan tuanku betul. Ya, masih bodoh juga sebahagian kami, betul itu. Berbahaya pergi melihat bulan itu ke tempat yang tinggi, ke atas bukit, tempat yang sunyi, tidak ada dangau, kalau tiba badai dan hujan lebat, ya bangkai dingin dibuatnya. Maka mendengar keterangan Tuanku, ingin pula hati kami kepada yang mudah itu. Tetapi sebelum kami pindah kepada yang mudah itu, kami ingin dahulu mendengar hadits Nabi Muhammad yang menyuruh memasuki puasa dengan melihat hisab.” Mendengar usul dari Syekh Paseban itu, maka Inyiak Rasul terdiam, sebab tidak ada haditsnya yang menyuruh memasuki puasa dengan melihat hisab…/ (Al-Khatib. 2001: 26-27).

    Di pertengahan abad ke-19, satu kelompok aliran Islam yang dipengaruhi mazab Wahabbiyyah masuk dan diperkenalkan di Sumatra Barat. Kelompok aliran Islam ini dikenal sebagai aliran modern, non tarekat, kaum muda. Kelompok ini mempunyai misi menghapuskan unsur-unsur animisme dan mistik yang dikandung dalam ajaran Islam konservatif, kaum muda. Dikarenakan sifat gerakannya yang radikal, aliran ini banyak ditentang oleh kelompok-kelompok Islam yang telah terlebih dahulu ada. Sehingga tidak mudah bagi sufi-sufi yang membawa ajaran baru ini, mengembangkan ajaran-ajarannya walau di kampung halamannya sendiri.

    Gerakan yang dilakukan para ulama muda tersebut selalu mendapatkan kegagalan, karena aliran Syattariyah yang telah dianut selama berpuluh-puluh tahun oleh sebagian besar masyarakat muslim di Sumatera Barat, bahkan telah menjadi identitas bagi sebagian besar masyarakatnya, memberikan perlawanan. Sehingga, tak sedikit ulama-ulama muda yang “terusir” dari kampung halamannya, apabila ajaran-ajaran baru yang dikembangkan tidak diterima oleh masyarakatnya, seperti yang di alami oleh Syekh Daûd Al-Sûnur (Suryadi. 2004:180), hal yang sama juga dialami oleh tiga haji, yakni Haji Miskin, Haji Piobang dan Haji Sumanik (1803), yang baru pulang dari Mekkah, dan hendak menyebarkan doktrin-doktrin ajaran Wahabiyah dengan segala bentuk larangannya kepada orang kampungnya, mendapat pertentangan yang keras dari kekuatan ordonansi Syattariyah, mereka dipermalukan oleh guru-guru tarekat Syattariyah dan akhirnya masing-masingnya memutuskan untuk pergi meninggalkan kampung halamannya. Puncak dari serangkaian konflik tersebut adalah meletusnya perang Paderi (w. 1821-1830). Amran (1980:386), mengatakan bahwa pemberontakan Paderi ini adalah puncak dari rangkaian perdebatan mengenai benar dan salah, halal dan haram dalam ajaran Islam yang berkembang sebelumnya. Kaum Paderi beranggapan bahwa Islam yang dianut oleh masyarakat sebelumnya, kaum tua, penuh dengan unsur-unsur animisme, mistik, takhayyul, bid’ah dan khurâfât. “…gerakan Pidari ini dikembangkan oleh orang-orang yang penuh cita-cita, bersedia berkorban, penuh dinamisme. Tetapi kemudian sering dipaksakan secara berlebih-lebihan, terlalu picik dan kolot, kadang-kadang sama sekali tidak ada lagi hubungannya dengan agama yang ingin mereka “murnikan” sendiri. Bahwa mereka menentang adat istiadat yang bertentangan dengan agama, kita mengerti sekali…”

    Dipenghujung abad ke-19, gerakan-gerakan pemurnian Islam yang dilakukan oleh kaum muda Islam Sumatra Barat, semakin menunjukkan eksitensinya. Masyarakat Minangkabau sendiri juga semakin simpati terhadap gerakan-gerakan yang dilancarkan kaum muda sehingga lama-kelamaan kaum tua, kelompok Islam konservatif, ditinggalkan oleh para pengikutnya. Namun begitu, setidaknya ada dua faktor utama yang mempengaruhi kondisi ini. pertama, disebut di sini adalah faktor internal, dan kedua faktor eksternal.

    Faktor internal yakni kondisi kelompok Islam konservatif, kaum tua itu sendiri, yang pada masa itu sedang “paceklik” tokoh. Maksudnya, ulama-ulama yang dahulu sangat berpengaruh, misalkan saja dari Calau, Ulakan, Cangkiang, dllsbgnya, telah meninggal dunia, sedangkan khalifah penggantinya tidaklah terlalu matang keilmuannya.

    Sedangkan faktor kedua adalah, faktor eksternal, yakni kondisi sosial politik yang terjadi di Arab. Di Arab, setidaknya, semenjak kemunduran Dinasti Ûsmâni (Turki), terjadi berbagai ketegangan. Ibn ‘Abd Al-Wahhab murid dari ‘Abd Allah bi Ibrahim bi Sayf Al-Najdi Al-Madani, seorang ulama Naqsyabandiyyah, mendeklarasikan perang terhadap doktrin-doktrin tradisional yang dinilai sesat dan telah membawa kemunduruan sosial, ekonomi dan politik umat Islam. Alasan tersebut cukup kuat, mengingat bangsa Eropa telah memulai mengembangkan ilmu pengetahuan dan tekhnologinya kembali, bahkan beberapa diantaranya, seperti Inggris, Belanda, Prancis dan Spanyol telah melakukan ekspansi ke wilayah-wilayah di luar Eropa, termasuk Asia Tenggara, juga Sumatra Barat. Ketegangan-ketegangan tersebut selanjutnya melahirkan perperangan, perebutan kekuasaan, setelah gerakan ‘Ibn Abd Al-Wahhab bergabung dengan kekuatan Raja Ibn Sa’ud menjatuhkan rezim Raja Syarif Husen dan akhirnya menguasai seluruh Jazirah Arab (Ali. 2003). Di bawah kekuasaan Raja Ibn Sa’ud inilah faham Wahabbiyyah dapat berkembang dengan cepat ke penjuru negeri Islam, termasuk Sumatera Barat. Faktor ekstenal lainnya yang juga secara tidak langsung turut mempengaruhi kondisi ini adalah Terusan Suez. Memang semenjak dibukanya Terusan Suez tahun 1869. Koneksi antara negeri-negeri Arab dengan negeri-negeri Islam lainnya, termasuk Sumatra Barat semakin lancar, sehingga gejolak sosial politik yang terjadi di Arab pada waktu itu, cepat mempengaruhi negeri-negeri Islam lainnya, termasuk Sumatra Barat. (Suminto. 1986).

    Demikianlah pada akhirnya, gerakan-gerakan kelompok Islam modern tersebut, juga turut merubah pandangan masyarakat Minang terhadap kelompok Islam konservatif dan juga ajaran-ajaran yang dikembangkannya. Banyak tudingan miris ditujukan kepada kelompok tua tersebut, ada yang menyebutkan “tukang sihir”, “tukan tenung”, dan lainnya.

    /…Adapun menantu Angku Syekh Datuk adalah Juru Tulis Kepala Negri Lumindai. Dia selalu menghadiri orang bai’at, tetapi dia tidak sama bai’at. Disuruh serta dia tidak mau, sebab dia berpaham modern. Pada suatu hari dia akan pergi menghadiri orang bai’at, berkata isterinya, “Kemana itu?” “Pergi ke mesjid.” Jawabnya. Kata istrinya, “Sama pulalah baiat itu, kalau tidak jangan didengarkan juga orang bai’at.” Jawabnya “Tidak ada pula begitu.” Dia terus…/(Al-Khatib. Ibid. 68).

    /…beliau Syekh Paseban, akan berangkat ke Mekkah. Orang rami memperkatakan beliau di lapau Simpang Tabing. Yang diperkatakan yaitu, kata orang, “rami benar orang datang menjelang Angku Paseban dari darat, dari mudik, maksudnya dari Pariaman, mengambil bai’at kepada beliau, dari pagi sampai malam tidak putus-putusnya.” Waktu itu, di situ sedang berada seorang ustadz, yang dipanggil orang Pakih Tanjung. Mendengar perkataan orang demikian, dia segera berdiri mengambil sepedanya sambil berkata, “Lekaslah berangkat Angku Paseban ini ke Mekkah, boleh nak Islam orang Koto Tangah ini.” [Kata] Katanya…/(Al-Khatib. Ibid. 70).

    Di Mekkah sendiri, semenjak raja Ibnu Sa’ud berkuasa, perlakuan yang sama juga dialami oleh kelompok-kelompok Islam yang bermazhab tua (Syafi’i, Hambali, Hanafi, dan Maliki). Sehingga, tidak sedikit pula ulama-ulama tua yang pergi mengasingkan diri ke pedalaman Arab, jauh dari peradaban.

    /…Oleh Raja Ibnu Sa’ud (Raja Wahabi), diaturnyalah pemerintahannya. Setelah aman, maka diperintahkannyalah menukar mazhab yang ada di Mekkah yaitu mazhab yang empat, mazhab Hanafi, mazhab Maliki, mazhab Syafi’i dan mazhab Hambali, ditukar dengan mazhab Wahabi. Tidak dibolehkan memakai mazhab yang empat dan segala kitab-kitab dari mazhab yang empat dikumpulkannya dan dibakar habis semuanya. Ulama yang tidak mau menukar mazhab dihukum pancung, sehingga sampai enam puluh orang ulama di Mekkah, Madinah dan Thaif yang dipancung. Begitu ganasnya Raja Sa’ud memaksakan mazhabnya…/ (Al-Khatib. Ibid. 93).

    Wallahu a‘lam bishawab

    Taruko, 13 Sya’ban 1427 H


  11. Syeikh Ahmad Khattib As-Sambasi
    Buku : Tokoh-Tokoh Ulama Kalimantan

    Karya Tulis Syeikh Ahmad Khattib As-Sambasi

    Tafsir Marah Labid
    Nur azh-Zhalam Syarh Aqidatul Awam

    Fathul Arifin termasuk salah satu istilah yang banyak dibicarakan di kalangan sufi, yang dimaksudkan disini adalah sebuah risalah atau kitab yang berasal dari imlak Syeikh Ahmad Khattib Sambas. Imlak tersebut ditulis oleh beberapa orang muridnya, dan yang sempat diterbitkan hanyalah versi catatan Syeikh Muhammad bin Ismail bin Abdur Rahim al-Bali. Manuskrip Fathul Arifin yang dinisbahkan Syeikh Ahmad Khattib Sambas yang ada, yaitu:
    Judul Silsilah Tariqat wan Naqsyabandiyah yang dicatat oleh Abdul Hakim ibnu Marhum Lebai Abdul Kari Sambas, Kampung Asam. Naskah ini merupakan satu-satunya ditulis oleh orang yang berasal dari Sambas.

    Manuskrip tanpa judul, hanya dinyatakan Talkin, Zikir dan bai,ah tariqat yang diijazahkan oleh guru Maulana asy-Syeikh Ahmad Khattib bin Abdul Ghaffar Sambas yang tinggal di Makkah al-Musyarrafah kepada sekalian muridnya. Manuskrip ini dimulai nama pencatatnya bernama Haji Muhammad Sa,id bin Hasanuddin, Imam Singapora, mengambil dari gurunya Sayyid Muhammad bin Ali al-Aidarus, dia mengambil dari Sayyid Jafar bin Muhammad as-Saggaf Pontianak, mengambil dari Muhammad Saad bin Muhammad Thasin al-Banjari mengambil dari Syeikh Ahmad Khattib. Manuskrip ini ditulis tahun 1286 H., dan selanjutnya disalin oleh Sayyid Ahmad bin Ismail al-Aydarus hari kamis 4 Dzulhijah 1293 H./21 Desember 1876 M., diperoleh di Pontianak pada 8 Syawal 1422 H./22 Desember 2001 M.

    Fathul Arifin naskah yang ditulis oleh Haji Muhammad bin Syeikh Abdus Samad al-Kalantani diselesaikan tahun 1294 H./1877 M., dalam manuskrip ini dikombinasikan dengan tarekat Syathariyyah.

    Tiga versi tersebut merupakan yang pernah diterbitkan, versi catatan Syeikh Muhammad bin Ismail bin Abdur Rahim al-Bali, beliau selesai menulis kembali setelah diteliti pada bulan Rajab 1295 H./Juli 1878 M. Naskah tersebut yang ditashih oleh Syeikh Ahmad al- Fathani, kemudian dicetak pertama kalinya oleh Mathba,ah al-Miriyah al-Kainah Makkah, 1305 H./1887 M., diberi judul Fathul Arifin

    Walaupun Syeikh Ahmad Khattib Sambas sebagai seorang tokoh sufi, namum selain ditonjolkan karya tasaufnya Fathul Arifin, beliau juga menghasilkan karya dalam bidang ilmu fikih, yaitu Fatwa Syeikh Ahmad Khattib Sambas Perihal Jumat, naskah tulisan tangan ini dijumpai tahun 1986, bekas koleksi Haji Mashur berasal dari pulau Subi, kepulauan Riau.

    Selain amalan Tarekat Qadiriyyah Naqkanaqsyabandiyyah, sebuah karya tanpa judul membicarakan masalah fiqih mulai bab thaharah, sholat, pengurusan mayat manuskrip tanpa tanggal hanya terdapat tahun penyalinan Hari Kamis 11 Muharam 1281 H., oleh Haji Ahmad Ibnu al-Marhum Panggawa Nashir Ahli al-Kayung Jamaah Tuan Syeikh Ahmad Khattib Sambas di Makkah al-Mukarramah, manuskrip ini diperoleh di kampung Mendalok Sungai Kunyit, Kabupaten Pontianak Kalimantan Barat pada 6 Syawal 1422 H./20 Desember 2001 M.

    http://ansharihst.com/?page=resensi-ahmad.html

    ————————————————-

    Muhammad Nafis Al-Banjari, Penyebar Islam di Pedalaman Kalimantan

    Januari 7, 2008

    Dialah pengarang “Durr Al-Nafis”, kitab berbahasa Jawi alias yang dicetak berulang-ulang di Timur Tengah dan Nusantara, yang masih dibaca sampai sekarang. Dia berada dalam urutan kedua setelah Muhammad Arsyad Al-Banjari dari segi pengaruhnya atas kaum muslimin di Kalimantan. Apa yang yang harus dilakukan kaum muslimin agar memperoleh kemajuan dalam hidup? Mengapa Belanda melarang kitabnya beredar di Indonesia?

    Oleh: A. Suryana Sudrajat

    Kalimantan tidak hanya melahirkan Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari dengan karyanya “Sabilul Muhtadin” yang masyhur itu. Dari pulau yang dilintasi garis khatulistiwa ini juga mengorbit sebuah bintang yang kini menempati gugusan ulama terkemuka Nusantara. Dialah Syekh Muhammad Nafis Al-Banjari yang salah satu karyanya, “Durr Al-Nafis”, masih dibaca sampai sekarang.

    Setelah Arsyad Al-Banjari, Muhammad Nafis adalah ulama paling berpengaruh di Kalimantan. Muhammad Arsyad lebih masyhur sebagai ulama fiqh lewat karyanya yang monumental tadi, sedangkan Muhammad Nafis lebih terkenal sebagai ahli tasawuf, melalui karyanya yang juga beredar luas di Nusantara.

    Muhammad Nafis bin Idris bin Husain Al-Banjari berasal dari kluarga bangsawan. Beliau dilahirkan di Martapura, Kalimantan Selatan, pada tahun 1148 Hijri atau tahun 1735 Masehi. Nafis hidup dalam kurun waktu yang sama dengan Syekh Arsyad, yang lahir pada 1122/1710. Jika Arsyad meninggal tahun 1227/1812, Nafis belum diketahui tahun wafatnya. Yang kita ketahui, peristirahatan terakhir beliau di desa Kelua, sekitar 125 kilometer dari Banjarmasin. Nafis melanjutkan pelajarannya ke Makkah, setelah belajar dasar-dasar keislaman di daerah kelahirannya. Mungkin dia belajar bersama Al-Falimbani dan Muhammad Arsyad dan para pelajar lainnya di Nusantara. Mereka memang punya guru-guru yang sama seperti As-Samani, Muhammad Al-Jauhari, Muhammad Siddiq. Dia juga belajar pada Abdullah bin Hijazi Al-Syarqawi, yang dua tahun lebih muda, Syaikh Al-Azhar, dan juga guru Dawud Al-Fatani. Al-Syarqawi merupakan ulama hadis terkemuka, yang menjadi isnad (sandaran) Muhammad At-Tirmasi, ulama hadis terkemuka kita, yang asal Tremas, Jawa Timur, yang tinggal dan meninggal di Makkah.

    Muhammad Nafis mengikuti mazhab Syafi’i dan menganut ajaran kalam Asy’ari. Dia juga bergabung dengan beberapa tarekat seperti Qadiriyah, Syathariyyah, Naqshabadiyah dan Khalwatiyah. Nafis, seperti terungkap dalam “Durr An-Nafis” menekankan transendensi mutlak dan keesaan Tuhan, dan menolak faham determinisme fatalistik Jabariyyah yang berlawanan dengan kehendak bebas (Qadariyyah). Dia berpendapat bahwa kaum muslimin musti berjuang mencapai kehidupan yang lebih baik dengan cara melakukan amal shalih (perbuatan baik) dan menghindari kejahatan (nahy ‘anil munkar). Penekanannya yang kuat akan aktivisme muslim ini menyebabkan bukunya kena pemberedelan Belanda. Pemerintah kolonial khawatir kitabnya itu akan mendorong kaum muslimin melancarkan jihad.

    Tidak diketahui kapan persisnya Muhammad Nafis Al-Banjari balik ke Nusantara. Mungkin dia langsung pulang ke Kalimantan, tidak mampir-mampir dulu di tempat lain, sebagaimana, misalnya, Syekh Arsyad yang sempat ngendon dua bulan di Betawi seraya membetulkan arah qiblah sejumlah masjid di sini. Syekh memang diminta temannya, Abdurrahman Al-Batawi, agar tidak buru-buru pulang kampong. Tapi Syekh menggunakan waktunya yang relatif singkat itu untuk da’wah di kalangan muslim Betawi. Kembali ke tokoh kita. Bebeda dengan Muhammad Arsyad yang menjadi perintis pusat pendidikan Islam, Muhammad Nafis mencemplungkan dirinya dalam usaha penyebarluasan Islam di wilayah pedalaman Kalimantan. Dia memerankan dirinya sebagai ulama sufi kelana yang khas, keluar-masuk hutan menyebarkan ajaran Allah dan Rasul-Nya. Dan oleh karena itu beliau memainkan peranan penting dalam mengembangkan Islam di Kalimantan.

    Islamisasi di Kalimantan

    Sebelum Muhammad Arsyad dan Muhammad Nafis, boleh dibilang tidak ada upaya-upaya Islamisasi yang serius di Kalimantan. Tidak ada upaya yang serius yang dilakukan oleh para penguasa untuk memajukan kehidupan Islam. Usaha-usaha yang dilakukan para da’i keliling, juga tidak memperoleh kemajuan yang berarti.

    Islam masuk Kalimantan Selatan lebih belakangan ketimbang misalnya, Sumatra Utara dan Aceh. Seperti diungkapkan Azra, diperkirakan pada awal abad ke-16 sudah ada sejumlah muslim di sini, tetapi Islam baru mencapai momentumnya setelah pasukan Kesultanan Demak dating ke banjarmasin untuk membantu Pangeran Samudra dalam perjuangannya melawan kalangan elite di Kerajaan Daha. Setelah kemenangannya, Pangeran samudra beralih memeluk Islam pada sekitar tahun 936/1526, dan diangkat sebagai sultan pertama di Kesultanan Banjar. Dia diberi gelar Sultan Surian Syah atau Surian Allah oleh seorang da’i Arab.

    Dengan berdirinya Kesultanan Banjar, otomatis Islam dianggap sebagai agama resmi negara. Namun demikian, kaum muslimin hanya merupakan kelompok minoritas di kalangan penduduk. Para pemeluk Islam, umumnya hanya terbatas pada orang-orang Melayu. Islam hanya mampu masuk secara sangat perlahan di kalangan suku Dayak. Bahkan di kalangan kaum Muslim Melayu, kepatuhan kepada ajaran Islam boleh dibilang minim dan tidak lebih dari sekadar pengucapan dua kalimah syahadat. Di bawah para sultan yang turun-temurun hingga masa Muhammad Arsyad dan Muhammad Nafis, tidak ada upaya yang serius dari kalangan istana untuk menyebarluaskan Islam secara intensif di kalangan penduduk Kalimantan. Karena itu, tidak berlebih jika Muhammad Nafis dan terlebih Muhammad Arsyad Al-Banjari merupakan tokoh penting dalam proses Islamisasi lebih lanjut di Kalimantan. Dua orang ini pula yang memperkenalkan gagasan-gagasan keagamaan baru di Kalimantan Selatan.

    Daya Spiritual dan Kewajiban Syari’at

    Nama kitab “Durr Al-Nafis” sesungguhnya amatlah panjang. Lengkapnya, kitab yang ditulis di Makkah pada 1200/1785 ini: “Durr Al-Nafis fi Bayan Wahdat Al-Af’al Al-Asma’ wa Al-Shifat wa Al-Dzat Al-Taqdis”. Kitab ini berkali-kali dicetak di Kairo oleh Dar Al-Thaba’ah (1347/192 8) dan oleh Musthafa Al-Halabi (1362/1943), di Makkah oleh Mathba’at Al-Karim Al-Islamiyah (1323/1905), dan di berbagai tempat di Nusantara. Kitab ini menggunakan bahasa Jawi, sehingga dapat dibaca oleh orang-orang yang tidak faham bahasa Arab.

    Seperti diungkapkan Doktor Azyumardi Azra, sejarawan dari Universitas Islam Negeri Jakarta, dalam kitabnya itu, Muhammad Nafis dengan sadar berusaha mendamaikan tradisi Al-Ghazali dan tradisi Ibn ‘Arabi. Dalam karyanya ini, di samping menggunakan ajaran-ajaran lisan dari para gurunya, Nafis merujuk pada karya-karya “Futuhat Al-Makkiyah” dan “Fusushl-Hikam” dari Ibn ‘Arabi, “Hikam” (Ibn Atha’illah), “Insan Al-Kamil” (Al-Jilli), “Ihya’ ‘Ulumiddin” dan “Minhaj Al-‘Abidin (Al-Ghazali), “Risalat Al-Qusyairiyyah” (Al-Qusyairi), “Jawahir wa Al-Durar” (Al-Sya’rani), “Mukhtashar Al-Tuhfat al-Mursalah” (‘Abdullah bin Ibrahim Al-Murghani), dan “Manhat Al-Muhaammadiyah” karya Al-Sammani.

    Tauhid atau keesaan Tuhan, menurut Muhammad Nafis, terdiri atas empat tahap. Yakni tauhid al-af’al yaitu keesaan perbuatan Tuhan, tauhid al-shifat (keesaan sifat-sifat Tuhan), tauhid al-asma’ (tahid keesaan nama-nama Tuhan), dan tauhid adz-dzat (keesaan esensi Tuhan). Pada tahap tertinggi yaitu tauhid adz-dzat, si pencari kebenaran (salik) akan mengalami fana’, dan selama itu dia akan mencapai musyahadah (penyaksian dan penglihatan) esensi Tuhan. Muhammad Nafis menegaskan, bahwa Dzat Tuhan tidak dapat diketahui melalui indra yang lima dan akal, melainkan hanya dengan kasyf atau intuisi langsung. Untuk mencapai kasyf, Nafis menekankan pentingnya kepatuhan akan syariat baik lahir maupun batin. Kata dia, mustahil seseorang mencapai kasyf tanpa menguatkan daya spiritual dengan cara menjalankan ibadah-ibadah dan kewajiban lain yang ditetapkan syariat.
    ————————–

    Syekh Abdul Karim, Pemimpin Tarekat Qadiriah Akhir Abad XIX

    Oleh A. Suryana Sudrajat

    Gerakan kebangkitan kembali (revival) yang dipimpin Syekh Abdul Karim alias Kia Ageng memang memperlihatkan sikap yang keras dalam soal-soal keagamaan dan bernada puritan. Tetapi ia bukan seorang revolusioner yang radikal. Kegiatan-kegiatannya terbatas pada tuntutan agar ketentuan-ketentuan agama, dengan tekanan khusus kepada salat, puasa, mengeluarkan zakat dan fitrah, agar benar-benar dilaksanakan. Dan tentu saja, zikir merupakan kegiatan yang pokok pula.
    ———————-

    Senin, 13 Februari 1876. Haji Abdul Karim meninggalkan Tanara. Ia terpaksa meninggalkan Banten menuju tanah airnya yang kedua, Makkah, menyusul pengangkatannya sebagai pemimpin Tarekat Qadiriah, menggantikan Syekh Ahmad Khatib Sambas. Ikut bersamanya 10 anggota keluarga, enam orang pengawal, dan 30 atau 40 orang yang menyertainya hanya sampai Batavia.

    Khawatir akan kemungkinan turunnya rakyat secara besar-besaran ke jalan, Residen Banten meminta Kiai Abdul Karim mengubah rute perjalanannya. Rencananya singgah di beberapa tempat di Tangerang dibatalkan; diputuskan ia akan menumpang kapal langsung ke Batavia. Padahal banyak haji dari Tangerang dan Distrik Bogor sudah berangkat ke Karawaci. Selain itu, satu pertemuan besar akan digelar di rumah Raden Kencana, janda Tumenggung Karawaci dan ahli waris perkebunan swasta Kali Pasir, yang selain oleh anggota keluarganya juga bakal dihadiri orang-orang yang dicap pemerintah kolonial sebagai “fanatik” dan pembangkang. Semuanya urung. Toh murid dan para pengikut Abdul Karim berduyun-duyun bertolak dari desa-desa pantai, seperti Pasilian dan Mauk, dengan menggunakan berbagai perahu, untuk menyatakan salam perpisahan—dan semoga Kiai kembali.

    Tak syak lagi, Haji Abdul Karim adalah salah satu ulama yang sangat dihormati dan paling berpengaruh di Nusantara pada penghujung abad ke-19. Ia digelari Kiai Agung. Bahkan sebagian orang menganggapnya sebagai Wali Allah, yang telah dianugerahi karamah. Di antara peristiwa yang disebut-sebut sebagai petunjuk kekaramatannya, pertama, ia selamat ketika seluruh daerah dilanda banjir air Sungai Cidurian; kedua, setelah ia dikenai hukuman denda, residen diganti dan bupati dipensiun.

    Besarnya pengaruh Kiai Abdul Karim, juga tampak ketika ia melangsungkan pernikahan putrinya. Seluruh desa Lampuyang, tempat tinggalnya, dihias dengan megah. Kiai-kiai terkemuka — termasuk dari Batavia dan Priangan — datang di pesta yang antara lain dimeriahkan rombongan musik dari Batavia dan berlangsung sepekan itu.

    Sejak muda Abdul Karim berguru kepada Syekh Ahmad Khatib Sambas. Pemimpin tarekat yang juga menguasai hampir semua cabang ilmu keislaman ini dilahirkan di Sambas, Kalimantan Barat, dan bermukim di Makkah sejak perempat kedua abad ke-19. Pengarang Fathul ‘Arifin ini – kitab pedoman praktis untuk para pengamal tarekat di Asia Tenggara – mengajar di Masjidil Haram sampai wafatnya pada 1875. Ulama terkemuka ini punya banyak pengikut, sehingga ajaran Qadiriah menyebar di berbagai daerah di Nusantara, seperti Bogor, Tangerang, Solok, Sambas, Bali, Madura, dan Banten. Kecuali di Madura, semua pengikut tersebut berada di bawah bimbingan Haji Abdul Karim. Boleh dikatakan, Abdul Karim adalah murid Syekh Sambas yang paling terkemuka. Tak heran, jika dia mendapat kepercayaan gurunya untuk menyebarkan ajaran Tarekat Qadiriah.

    Tugas pertama yang diemban Haji Abdul Karim adalah menjadi guru tarekat di Singapura. Setelah beberapa tahun, ia kembali ke desa asalnya, Lampuyang, Tanara, pada tahun 1872. Ia mendirikan pesantren, dan karena sudah amat terkenal, dalam waktu singkat ia sudah banyak memperoleh murid dan pengikut. Sulit diperkirakan berapa jumlah pengikutnya. Yang pasti, dialah yang paling dominan di kalangan elite agama di Banten kala itu.

    Kurang lebih tiga tahun Kiai Abdul Karim tinggal di Banten. Ditunjang kekayaan yang dimiliknya, ia mengunjungi berbagai daerah di negeri ulama dan jawara itu, sambil menyebarkan ajaran tarekatnya. Selain kalangan rakyat, ia juga berhasil meyakinkan banyak pejabat pamong praja untuk mendukung dakwahnya. Tidak kurang dari Bupati Serang sendiri yang menjadi pendukungnya. Sedangkan tokoh-tokoh terkemuka lainnya, seperti Haji R.A Prawiranegara, pensiunan patih, merupakan sahabat-sahabatnya, dan mereka amat terkesan dengan dakwahnya. Alhasil, Kiai Abdul Karim sangat populer dan sangat dihormati oleh rakyat; sedangkan para pejabat kolonial takut kepadanya. Kediamannya dikunjungi Bupati Serang dan Residen Banten. Dan tentu saja kunjungan kedua petinggi di Banten itu membuat gengsinya semakin naik. Tidak berlebihan jika dikatakan, Kiai Abdul Karim benar-benar orang yang paling dihormati di Banten.

    Sebelum kedatangan Kiai Agung dengan tarekat Qadiriahnya, para kiai bekerja tanpa ikatan satu sama lainnya. Tiap kiai menyelenggarakan pesantrennnya sendiri dengan caranya sendiri dan bersaing satu sama lainnya. Maka, setelah kedatangan Kiai Abdul Karim, tarekat Qadiriah bukan saja semakin mengakar di kalangan rakyat, tapi mampu mempersatukan para kiai di Banten. Penyebaran tarekat ini diperkuat oleh kedatangan Haji Marjuki, murid Haji Abdul Karim yang paling setia, dari Makkah

    Kiai Abdul Karim memang orang kaya. Dan kekayaan itu memungkinkannya menjelajahi berbagai daerah di Banten. Dalam kunjungan-kunjungan itu dia tak henti-henti berseru kepada rakyat supaya memperbarui kehidupan agama mereka dengan jalan lebih taat beribadah. Ia menjelaskan bahwa aqidah (keyakinan) dan ibadah (praktek agama) harus terus dimurnikan. Abdul Karim memfokuskan zikir sebagai tema keangkitan kembali kehidupan agama (revival). Maka zikir diselenggarakan di mana-mana, menggelorakan semangat keagamaan rakyat. Dan Berkat kedudukannya yang luar biasa, khotbah-khotbah Kiai Abdul Karim mempunyai pengaruh yang besar terhadap penduduk.

    Dalam waktu singkat, setelah Haji Abdul Karim memulai kunjungannya dari satu tempat ketempat lain, daerah Banten diwarnai kehidupan keagamaan yang luar biasa aktifnya. Pengaruh dari meluasnya kegiatan keagamaan ini adalah bangkitnya semangat di kalangan umat dalam menentang penguasa asing. Kebetulan pada waktu itu sudah berkembang rasa ketidakpuasaan rakyat kepada pemerintah kolonial akibat tindakan politik dan ekonomi mereka yang merugikan rakyat. Dalam situasi demikian, para ulama secara bertahap membangunkan semangat rakyat untuk melawan pemerintah kolonial Belanda. Ketidakpuasan itu kemudian memuncak sedemikian rupa sehingga beberapa ulama merencanakan waktu untuk memberontak terhadap Belanda. Kiai Abdul Karim sendiri menganggap bahwa pemberontakan belum tiba saatnya karena rakyat belum siap.

    Haji-haji Berjiwa Pemberontak

    Seperti diungkapkan sejarawan Sartono Kartodirdjo, gerakan kebangkitan kembali yang dipimpin Kiai Abdul Karim memang memperlihatkan sikap yang keras dalam soal-soal keagamaan dan bernada puritan. Tetapi ia bukan seorang revolusioner yang radikal. Kegiatan-kegiatannya terbatas pada tuntutan agar ketentuan-ketentuan agama, dengan tekanan khusus kepada salat, puasa, mengeluarkan zakat dan fitrah, agar benar-benar dilaksanakan. Dan tentu saja, zikir merupakan kegiatan yang pokok pula. Setelah Haji Abdul Karim meninggalkan Banten, menurut Sartono, gerakan itu berpaling dari semata-semata sebagai gerakan kebangkitan kembali. Semangat yang sangat anti asing mulai merembesi gerakan tarekat yang telah ditumbuhsuburkan Kiai Abdul Karim. Dan pada akhirnya haji-haji dan guru-guru tarekat yang berjiwa pemberontak menempatkan ajaran tarekat sepenuhnya di bawah tujuan politik.

    Syekh Abdul Karim disebut sebagai salah satu di antara tiga kiai utama yang memegang peranan penting dalam pemberontakan rakyat Banten di Cilegon pada tahun 1888. Dua tokoh kunci lainnya adalah KH Wasid dan KH Tubagus Ismail. Sebelum bertolak ke Makkah, sekali lagi ia berkeliling Banten. Di tempat-tempat yang dikunjunginya, ia berseru kepada rakyat agar berpegang teguh pada ajaran agama, dan menjauhkan diri dari perbuatan mungkar. Ia memilih beberapa ulama terkemuka untuk memperhatikan kesejahteraan tarekat qadiriah. Ia juga pamit kepada para pamong praja terkemuka, dan berpesan kepada mereka untuk menyokong perjuangan para ulama dalam membangun kembali kehidupan keagamaan, dan agar selalu minta nasihat kepada mereka mengenai soal-soal keagamaan.

    Menjelang keberangkatannya, kepada murid-murid dekatnya Syekh Abdul Karim mengatakan bahwa dia tidak akan kembali lagi ke Banten selama daerah ini masih dalam genggaman kekuasaan asing. Dia memang tidak terlibat secara langsung pemberontakan yang meletus 12 tahun setelah keberangkatannya ke Tanah Suci itu. Tapi dialah yang menjadi perata jalan bagi murid-murid dan pengikutnya untuk melakukan jihad atau perang suci. Di antara murid-muridnya yang terkemuka, yang mempunyai peranan penting dalam pemberontakan Banten, antara lain Haji Sangadeli dari Kaloran, Haji Asnawi dari Bendung Lampuyang, Haji Abu Bakar dari Pontang, Haji Tubagus Ismail dari Gulacir, dan Haji Marjuki dari Tanara. Mereka juga dikenal sebagai pribadi-pribadi yang punya karisma.

    Kepergian Abdul Karim ke Makkah, ternayata tidak menyurutkan pengaruhnya di Banten. Popularitasnya bahkan meningkat. Rakyat selah dilanda rindu dan ingin bertemu dengannya. Sementara para muridnya sendiri sudah tidak sabar menantikan seruannya untuk berontak.

    Snouck Hurgronje, yang menghadiri pengajiannya di Makkah pada 1884-1885, menceritakan:
    “Setiap malam beratus-ratus orang yang mencari pahala berduyun-duyun ke tempat tinggalnya, untuk belajar zikir dari dia, untuk mencium tangannya, dan untuk menayakan apakah saatnya sudah hampir tiba, dan berapa lagi pemerintahan kafir masih akan berkuasa.”
    Tetapi Syekh Abdul Karim tidak memberikan jawaban pasti. Dia selalu memberikan jawaban-jawaban yang samar tentang soal-soal yang sangat penting seperti mengenai pemulihan kesultanan atau saat dimulainya jihad. Dia hanya mengisyaratkan bahwa waktunya belum tiba untuk melancarkan perang sabil.***

    Dilema Guru, Dilema Murid

    Pada 1883 murid Syekh Abdul Karim, Kiai Haji Tubagus Ismail, kembali dari Makkah, mendirikan pesantren dan mendirikan cabang tarekat Qadiriah di kampung halamannya, Gulacir. Bangsawan yang ingin menghidupkan kembali kesultanan Banten ini juga dianggap sebagai wali – ia tidak mencukur rambutnya seperti umumnya para haji, dan dalam setiap jamuan hampir tidak pernah makan apa-apa. Ditambah bahwa ia juga cucu Tubagus Urip, yang sudah dikenal sebagai wali, maka dalam waktu singkat KH Tubagus Ismail sudah punya banyak pengikut , dan kepemimpinannya semakin diakui di Banten. Menyadari dirinya mulai menarik perhatian umum, ia pun segera melancarkan propaganda untuk melawan penguasa kafir. Banyak ulama yang mendukungnya seperti Haji Wasid dari Beji, Haji Iskak dari Saneja, Haji Usman dari Tunggak, selain kiai-kiai seperguruannya seperti Haji Abu Bakar, Haji Sangadeli dan Haji Asnawi. Untuk mengkonkretkan rencana pemberontakan, rapat pertama diadakan pada tahun 1884 di kediaman Haji Wasid.

    Pada Maret 1887 Haji Marjuki, yang sering pulang pergi Banten-Makkah, tiba di Tanara. Murid kesayangan dan wakil Haji Abdul Karim ini juga sahabat dekat Haji Tubagus Ismail. Menurut dugaan para pendudukung pemberontakan, kedatangan Haji Marjuki itu adalah atas permintaan sahabatnya itu. Haji Marjuki segera melakukan kunjungan-kunjungan ke daerah-daerah di Banten, Tangerang, Batavia, dan Bogor untuk mendakwahkan gagasan tentang jihad. Propagandanya cepat diterima umum, karena ia bertindak atas nama Haji Abdul Karim. Dilaporkan, setelah berbagai kunjungannya itu, masjid-masjid dipenuhi orang-orang yang beribadah, jamaah pada hari-hari Jum’at meningkat tajam. Dalam berdakwah di luar Banten, Haji Marjuki dibantu oleh Haji Wasid, yang juga sangat berhasil meyakinkan para kiai di daerah Jawa Barat. Dikatakann, kedua haji ini sesungguhnya merupakan jiwa gerakan jihad di Banten. Bahkan pejabat-pejabat tertentu di Banten, seperti residen, menganggap bahwa Haji Marjuki bertanggung jawab sepenuhnya atas pemberontakan itu.

    Tetapi, menjelang pemberontakan meletus, Haji Marjuki segera berangkat ke Makkah bersama istri dan anaknya. Sebelum berangkat ia sempat memberkati pakaian putih yang akan dikenakan para pemberontak di masjid kediamannya di Tanara. Rupanya ia tidak sependapat dengan kiai lainnya, khususnya Haji Wasid, yang akan memulai pemberontakan pada bulan Juli. Kepada mereka ia menjelaskan bahwa pemberontakan itu terlalu dini, dan ia meninggalkan Banten sebelum pemberontakan pecah. Dan jika pemberontakan itu berhasil, ia akan mengundang Syekh Abdul Karim dan Syekh Nawawi untuk datang ke Banten dan ikut serta dalam perang sabil.

    Di Makkah Haji Marjuki melanjutkan pekerjaan lamanya, yatu mengajar nahwu, sharaf, dan fikih. Muridnya tergolong banyak. Ia juga tidak pernah menyembunyikan sikap politiknya. Ia misalnya mengecam pemberontakan yang dipimpin Haji Wasid yang dinilainya terlalu pagi dan menimbulkan korban yang sia-sia. Menurutnya, agar berhasil, pemberontakan harus pecah di seluruh Nusantara, selain bahwa pemberontak harus punya cukup uang dan senjata. Karena pendapatnya itu, terjadilah perselisihan yang sulit didamaikan dengan Haji Wasid dan kawan-kawan. Dan kepada mereka ia mengatakan bahwa tangan kananya yang berpuru tidak memungkinnya aktif dalam perjuangan. Andaikan dia tetap di Banten, ia pasti akan menghadapi dilema: dibunuh oleh seradu-serdadu Belanda atau tidak berbuat apa-apa dan menghadapi risiko tindakan pembalasan Haji Wasid. Maka hanya satu alternatif – pergi ke Makkah. Lagi pula istri dan anak-anaknya masih ada di sana. Apakah alasana-alasan itu merupakan dalih yang dibuat-buat untuk meninggalkan medan pertempuran menjelang saat meletusnya pemberontakan, dan merupakan bukti bahwa pada saat-saat terakhir Haji Marjuki hanya mementingkan keselamatannya sendiri? .

    Kedudukan pribadi yang sulit seperti itu, sebenarnya pernah dialami beberapa tahun sebelumnya oleh guru Haji Marjuki sendiri, Syekh Abdul Karim. Hanya saja sang guru tampaknya lebih “beruntung” karena keburu dipanggil untuk menggantikan kedudukan Syekh Sambas. Bukankah Haji Abdul Karim dulu, ketika masih di Banten, berpendapat bahwa rakyat sebenarnya belum siap untuk mengadakan pemberontakan? Bahkan, di tahun-tahun ketika murid-muridnya tidak sabar menungu “fatwa” untuk mulai berjihad, dia tidak pernah memberikan kepastian waktu. Sementara itu, sebagai kiai agung dan pengaruh, ia dituntut untuk merestui dan secara tidak langsung memimpin pemberontakan. Jadi, apakah sang murid kesayangan sebenarnya hanya mengikuti pendapat gurunya, Syekh Abdul Karim? Wallahu a’lam.

    Yang pasti, setelah pemeberontakan dipadamkan, pemerintah kolonial terus memburu orang-orang yang terlibat atau mereka yang diduga terlibat dalam terlibat. Ada yang dihukum mati dengan cara digantung di Alun-alun Cilegon, diasingkan, dipenjara, dan, yang laing ringan, dikenai hukuman kerja paksa. Beberapa pemimpin pemberontak berhasil meloloskan diri, dan di antaranya ada yang lari ke Makkah. Dan meskipun diburu sampai Tanah Suci, pemerintah tidak bisa menjangkau mereka. Sementara itu, Kiai Abdul Karim dan Haji Marjuki terus dimata-matai.

    Sekarang, jejak Syekh Abdul Karim kita temukan dalam pelbagai kumpulan tarekat. Organisasi-organisasi tarekat di Tanah Air, terutama Jawa (di pesantren-pesantren Cilongok, Tangerang, Pagentongan, Bogor, Suralaya, Tasikmalaya, Mranggen, Semarang, Bejosa dan Tebuireng, keduanya di Jombang), yang paling berpengruh dan memiliki puluhan ribu pengikut, menyambungkan silsilah mereka ke Syekh Abdul Karim.***

    1 comment Nopember 19, 2007
    MUHAMMAD MAHFUDZ AT-TARMASI, ULAMA HADIS TERKEMUKA DARI TREMAS

    Syekh Mahfudz At-Tirmasi, kelahiran Tremas, Jawa Timur, menjalani karier intelektualnya di Tanah Suci. Di Makkah pula, pengarang produktif ini tutup usia. Meskipun tidak pernah mengajar di pesantren yang didirikan kakeknya, Pesantren Tremas justru dikenal luas berkat reputasi keilmuan Syekh Mahfudz. Apa kehebatannya dalam mengarang kitab?

    (more…)

    6 comments Oktober 25, 2007
    Dari Bahasa Pasaran ke Bahasa Pengetahuan

    Setelah kedatangan Islam, bahasa Melayu yang semula hanyalah bahasa pasaran terbatas, berubah secara radikal menjadi bahasa keilmuan dan kebudayaan. Mengapa justru asal mula bahasa Indonesia yang digunakan sebagai bahasa pengantar Islam di kawasan Asia Tenggara?
    http://suryanasudrajat.wordpress.com/
    —————————————————
    7 Tanya Jawab Tentang Thariqat

    Assalamu’alaikum Wr. Wb

    Pengunjung sufimuda yang dirahmati Allah, terima kasih atas kunjungan dan tanggapannya terhadap blog sufimuda, tentu lebih banyak kurangnya dari pada lebihnya, setelah sebulan sufi muda menerbitkan artikel-artikel, kami menerima banyak pertanyaan (45 pertanyaan) yang dikirim ke email sufimuda@gmail.com, sebagian besar bertanyaannya seputaran Thariqat, Mursyid dan Wasilah. Masalah thariqat bagi sebagian awam masih ragu-ragu, apakah memang bagian dari ajaran Islam atau suatu amalan yang diadakan oleh orang-orang sufi tanpa ada dasar dalilnya. Karena pertanyaannya sebagian besar menginginkan dalil-dalil, maka kami menjawabnya dengan dalil-dalil, sebagian besar kami ambil dari buku:

    Permasalahan Thariqah, Hasil Kesepakatan Muktamar & Musyawarah Besar Jami’ah Ahlith Thariqah Al-Muktabarah Nahdlatul Ulama (1957-2005M), Penghimpun : K.H. A. Aziz Masyhuri diterjemahkan oleh : Achmad Zaidun.

    1.

    Hukum Masuk Thariqah

    Tanya : Bagaimana pendapat muktamirin tentang hukum masuk Thariqah dan mengamalkannya?

    Jawab : Jikalau yang dikehendaki masuk thariqah itu belajar membersihkan dari sifat-sifat yang rendah, dan menghiasi sifat-sifat yang dipuji, maka hukumnya fardhu ‘ain. Hal iniseperti hadis Rasulullah Saw, yang artinya: ”Menuntut ilmu diwajibkan bagi orang Islam laki-laki dan Islam perempuan”. Akan tetapi kalau yang dikehendaki masuk Thariqah Mu’tabarah itu khusus untuk dzikir dan wirid, maka termasuk sunnah Rasulullah Saw.1 Adapun mengamalkan dzikir dan wirid setelah baiat, maka hukumnya wajib, untuk memenuhi janji. Tentang mentalqinkan (mengajarkan) dzikir dan wirid kepada murid, hukumnya sunat. Karena sanad Thariqah kepada Rasulullah Saw, itu sanad yang shahih.

    Keterangan dari kitab:

    1.

    Al-Ma’aarif al-Muhammadiyah, hal. 81;
    2.

    Al-Adzkiyaa

    Al-adzkiyaa’: Pelajarilah ilmu yang membuat sah ibadahnya.

    Al-Ma’ararifah al-Muhammadiyyah, hal. 81: Sanad para wali kepada Rasulullah Saw. Itu benar (shahih), dan shahih pula hadis bahwa Ali ra. Pernah bertanya kepada Nabi Saw. Kata Ali, “Wahai Rasulullah, tunjukkanlah kepadaku jalan terdekat kepada Allah yang paling mudah bagi hamba-hamba-Nya dan yang paling utama bagi Allah!” Rasulullah Saw. Bersabda, ‘Kiamat tidak akan terjadi ketika di muka bumi masih terdapat orang yang mengucapkan ‘Allah’. Dasar lainnya adalah firman Allah Swt. ‘Penuhilah janji, sesunggunhya janji itu akan diminta pertanggungjawabannya’”. (Al-Israa’; 34).

    1.

    Murid Pindah Thariqah

    Tanya : Apakah boleh seorang murid Thariqah pindah dari satu thariqah kepada Thariqah yang lain?

    Jawab : Haram pindah dari satu Thariqah kepada Thariqah yang lain. Namun dapat dikatakan : Boleh pindah, apabila dia dapat menetapi kepada Thaiqah yang sudah dimasuki dan istiqamah (tekun) pada tuntunannya.

    Keterangan dari kitab-kitab:2 )

    1.

    fataawa al-Haditsiyah, hal.50;
    2.

    majmu’ah al-rasail, hal. 114;
    3.

    ahkaamul Fuqaha, soal no. 173.

    Al-fataawa al-hadiitsiyah, hal 50: Barangsiapa telah menyatakan baiat kepada seorang mursyid, dan mampu melaksanakan isi baiatnya, dan telah mendapat pancaran rohani darinya dengan sifat yang pertama dan kedua, maka haram baginya –menurut mereka (para ulama)-meninggalkan mursyid tersebut dan beralih ke mursyid yang lain.

    Majmu’ah al-rasaail,. Hal: 114: Ketahuilah bahwa Thariqah-Thariqah yang ma’tsur, yang masyhur, yang sanadnya bersambung dari para guru thariqah terdahulu sampai belakangan adalah seperti empat madzhab dalam hal perpindahan dari satu madzhab ke madzhab yang lain, yaitu boleh, dengan syarat bidang yang dimasuki oleh orang yang berpindah madzhab itu harus utuh dengan senantiasa menetapi tata kramanya.

    3. Mursyid Melarang Muridnya Menerima Baiat dari Mursyid lain

    Tanya : Apakah boleh seorang mursyid melarang sebagian muridnya menerima baiat dari mursyid yang lain?

    Jawab : Boleh, kalau di dalam melarang itu untuk mengarahkan murid pada apa yang menjadikan kemaslahatannya.

    Keterangan dari kitab:

    Tanwiir al-quluub hal. 536: Yang kedua belas adalah mursyid tidak boleh lengah dalam membimbing murid-muridnya kepada apa yang menjadikan kebaikan bagi diri mereka.

    4. Tidak Bersanad Mengajarkan Thariqah

    Tanya : Apakah boleh orang yang tidak mempunyai sanad yang sambung kepada Rasulullah Saw mengajarkan thariqah kepada murid? Apakah boleh memberi ijazah kepadanya?

    Jawab : Tidak boleh, kalau thariqah itu Thariqah Mu’tabarah seperti Thariqah Naqsyabandiyah, Qadriyah, Khalidiyah, dan semacamnya, yaitu Thariqah yang silsilahnya sampai kepada Rasullullah.

    Keterangan dari kitab:

    1.

    Khaziinah Al-asraar, hal. 188.
    2.

    Ushuul al-Thariiq, hal. 89.
    3.

    Tanwir al-Quluub, hal. 534

    Khaziinah Al-asraar, hal. 188: Orang yang silsilah/sanadnya tidak bersambung kehadirat Nabi saw. Itu terputus dari pancaran rohani dan ia bukanlah pewaris Rasullullah Saw. Serta tidak boleh membaiat dan memberi ijazah.

    Ushuul al-Thariiq, hal. 89: Semua ulama salaf sepakat bahwa orang silsilahnya tidak bersambung kepada guru-guru thariqah dan tidak mendapat izin untuk memimpin umat di majlis thariqah, tidak boleh menjadi mursyid, tidak boleh membaiat, tidak boleh mengajarkan dzikir dan amalan-amalan lain dalam thariqah.

    Tanwir al-Quluub, hal. 534: tidak boleh menjadi guru thariqah dan mursyid kecuali setelah mendapat penempaan dan izin, sebagaimana kata para imam, karena sudah jelas bahwa orang yang menjadi guru thariqah tanpa mendapat izin itu bahayanya lebih besar daripada kemashlatannya, dan ia memikul dosa sebagai pembegal/penjambret thariqah, serta jauh dari derajat murid yang benar, apalagi dari derajat guru thariqah yang arif.

    5. Hukum Peringatan Haul (Hari Wafat)

    Tanya : Apakah peringatan hari wafat (haul) termasuk bid’ah atau memang ada nash dari hadis?

    Jawab : Sesungguhnya peringatan hari wafat (haul) ada nash hadis dariperbuatan Rasullullah Saw., Abu Bakar, Umar ra, dan utsman ra.

    Keterangan dari kitab:

    1.

    Syaarah al-Ihyaa’,X
    2.

    Kitab nahju al- balaaqhah, hal. 394-396.
    3.

    Kitab manaaqib sayyidi al-syuhada’ Hamzah ra., hal. 15.

    Syaarah al-Ihyaa’, juz X Yang menjelaskan ziarah kubur. Al-Baihaqi meriwayatkan dari Al-Waqidi mengenai kematian, bahwa Nabi Saw. Senantiasa berziarah ke makama para syuhada’ di bukit Uhud setiap tahun dan sesampainya disana beliau mengucapkan salam dengan mengeraskan suaranya, “Salaamun’alaikum bimaa shabartum fani’ma’uqbaddaar” (QS. Al-Ra’d: 24. Artinya: keselamatan tetap padamu berkat kesabaranmu, maka betapa baiknya tempat kesudahan itu). Abu bakar juga berbuat seperti itu setiap tahun, kemudian Umar lalu Utsman. Fatimah juga pernah berziarah ke bukit Uhud dan berdoa. Sa’d bin Abi Waqqash mengucapkan salam kepada para syuhada’ tersebut kemudian ia menghadap kepada para sahabatnya lalu berkata, “mengapa kamu tidak mengucapkan salam kepada orang-orang yang akan menjawab salam mu?”

    Keterangan yang sama juga terdapat dalam kitab Nahju al- balaaqhah, hal. 394-396, dan Kitab manaaqib sayyidi al-syuhada’ Hamzah ra. Oleh sayyid ja’far al Barzanji hal. 15: Rasulullah Saw. Senantiasa berkunjung ke makam para syuhada’ di bukit Uhud pada penghujung setiap tahun dan beliau mengucapkan “Salaamun’alaikum bimaa shabartum fani’ma’uqbaddaar” (Artinya: keselamatan tetap padamu berkat kesabaranmu, maka betapa baiknya tempat kesudahan itu. QS. Al-Ra’d: 24.). ini tepat sebagai dalil/dasar orang-orang madinah yang melakukan ziarah rajabiyyah (pada bulan rajab) ke makam sayyidina Hamzah yang di tradisikan oleh Syaikh Junaid al-Masyra’I karena ia pernah bermimpi bertemu dengan sayyidina Hamzah yang menyuruhnya melakukan ziarah tersebut.­3)

    6. Cara Rabithah kepada Mursyid dengan Tata Sila Kesembilan

    Tanya : Bagaimana cara rabithah kepada syaikh mursyid yang disebut dalam tata sila kesembilan dalam kitab Tanwiir al-Quluub tentang cara berdzikir?

    Jawab : Cara rabithah yang ditanyakan tersebut yaitu menggambarkan rupa guru antara dua matanya, kemudian menghadapkan jiwa kepada rohaniyah dalam gambar itu pada permulaan dzikir sampai hasilnya merasa jauh dari dunia. Itulah yang dikehendaki tata sila yang kesepuluh.

    Keterangan dari kitab:

    1.

    Tanwiir al-Quluub, hal. 518.
    2.

    Al-Bahjah a-Saniyyah, 40.

    Al-Bahjah a-Saniyyah, 40: Ketahuilah bahwa menghadirkan rabithah itu bermacam-macam. Pertama, murid menggambarkan/ membayangkan rupa gurunya yang sempurna di hadapannya, kemudian ia bertawajjuh (berkonsentrasi) kepada rohaniyyah di dalam rupa gurunya tersebut dan terus bertawajjuuh seperti itu sampai ia jauh dari dunia atau mendapatkan atsar/dampak kejadzaban.

    Tanwiir al-Quluub, hal. 518: Murid wajib berusaha memperoleh pancaran rohani ari gurunya yang sempurna yang fana’ di dalam Allah (larut/tenggelam di dalam sifat-sifat ketuhanan –pen), dan sering berkonsentrasi pada rupa gurunya agar semakin kuat pancaran rohani yang diterima dari gurunya pada saat tidak bertemu secara fisik seperti ketika bertemu secara fisik, sehingga dengan konsentrasi tersebut murid merasakan gurunya benar-benar hadir dan merasakan nur yang sempurna…

    7. Ocehan Bahwa Thariqah tidak Termasuk Sunah Nabi

    Tanya : Bagaimana hukumnya orang yang melarang orang masuk Thariqah Mu’tabarah seperti Thariqah Naqsyabandiyah khalidiyyah, Qadiriyah, syathariyyah dan sebagainya, dan dia berkata bahwa Thariqah tersebut tidak termasuk sunah Rasulullah Saw.?

    Jawab : Kalau tujuan melarang itu ingkar kepada thariqah maka orang itu menjadi kufur.

    Keterangan dari kitab:

    Jaami’u al-ushuuli al-auliyaa’,hal. 136: Jauhilah ucapan, “Thariqah orang-orang sufi itu tidak diajarkan dalam Al-Quran dan hadis”, karena orang yang berkata seperti itu adalah kafir. Semua thariqah orang-orang sufi itu sesuai dengan akhlak dan perilaku Nabi Muhammad Saw.serta ajaran Allah.

    Demikian jawaban yang kami berikan atas pertanyaannya, Jawaban yang kami kutip langsung dari buku ini mudah-mudahan bisa menjawab beberapa pertanyaan yang pernah diajukan oleh pengunjung, pada kesempatan lain akan kami lanjutkan lagi tanya jawabnya, pertanyaan-pertanyaan yang bersifat pribadi kami berikan jawaban langsung via email.
    http://sufimuda.wordpress.com/2008/05/07/7-tanya-jawab-tantang-thariqat/
    —————————————————–
    hakikat tarekat naqsybandi haqqani
    الحجة الساطعة
    فى
    بيان الطريقة النقشبندية الحقانية

    “al-Hujjah al-Sathi’ah fi Bayan al-Thariqah
    al-Naqsyabandiyyah al-Haqqaniyyah”

    (Argumentasi Cemerlang
    dalam Menyingkap Hakikat
    Tarekat Naqsyabandiyah Haqqaniyah yang benderang)

    Oleh: H. Abbas Arfan Baraja, Lc., M.H.[1]

    A. Islam dan Sufisme
    Pengertian Sufisme.
    Tasawuf atau Sufisme adalah satu cabang keilmuan dalam Islam atau secara keilmuan ia adalah hasil kebudayaan Islam yang lahir kemudian setelah Rasulullah wafat.. Menurut Hakim Hassan dalam al-Tasawwuf fi Syi’ri al-’Arab, istilah tasawuf baru terdengar pada pertengahan abad kedua hijriyah dan menurut Nicholson dalam bukunya al-Tasawwuf al-Islami wa Tarikhihi, pertengahan abad ketiga hijriyah.[2]
    Secara etimologis, kata ini berasal dari bahasa Arab, Tasawwafa. Namun para ulama berbeda pendapat dari mana asal usulnya (akar katanya). Ada yang mengatakan dari kata “Shuf’ (bulu domba), “Shaf’ (barisan), “Shafi/Shofa” (jernih) dan dari kata “Shuffah” (emper Masjid Nabawi yang ditempati oleh sebagian shahabat Nabi saw.). Pemikiran masing-masing pihak itu dilatarbelakangi obsesinya dan fenomena yang ada pada diri para sufi.[3]
    Dan Imam al-Qusyairi[4] dalam hal ini memberikan komentarnya yang dinukil Shodiq bin Hasan al-Qonuji dalam kitabnya “Abjad al-Ulum al-Wasyi al-Marqum fi Bayani ahwal al-Ulum” sebagai berikut:
    وقال القشيري – رحمه الله – : ولا يشهد لهذا الاسم اشتقاق من جهة العربية ولا قياس والظاهر إنه لقب ومن قال : اشتقاقه من الصفا أو من الصفة فبعيد من جهة القياس اللغوي قال : وكذلك من الصوف لأنهم لم يختصوا بلبسه قلت : والأظهر إن قيل : بالاشتقاق أنه من الصوف وهم في الغالب مختصون بلبسه لما كانوا عليه من مخالفة الناس في لبس فاخر الثياب إلى لبس الصوف فلما اختص هؤلاء بمذهب الزهد والانفراد عن الخلق والإقبال على العبادة اختصوا بمآخذ مدركة لهم.[5]

    “Imam al-Qusyairi RA berkata: Tidak ditemukan bukti yang kuat bahwa kata benda ini ( tasawwuf) adalah berakar kata dari bahasa arab juga tidak dianalogikan dari bahasa arab. Secara lahiriyah itu hanya laqab (julukan) saja, adapun pendapat yang mengatakan bahwa kata (tasawwuf) itu berasal dari kata shofa atau shuffah adalah sangatlah jauh dari sudut pandangan qiyas (analogi) ilmu bahasa, begitu juga orang yang berpendapat bahwa itu berasal dari kata Shuf adalah tidak berdasar, karena mereka para sufi tidak mengkhususkan harus memkai pakaian dari shuf (bulu domba). Walau memang mereka pada umumnya memakai pakaian dari wol itu karena mereka ingin memakai pakaian yang yang tidak menunjukan kebanggaan atau kemewahan seperti umumnya orang-orang, lantas mereka yang sebagai besar memakai pakaian sedarhana itu (bahkan rendah dan hina pada masa itu) terkenal dengan sifat zuhud, uzlah (mengasingkan diri) dari keramaian dan memfokuskan diri pada beribadah, maka orang-orang menjuluki mereka dengan istilah sufi (sebagai identitas) yang mudah dari apa yang orang-orang ketahuai.”

    Secara terminologispun banyak dijumpai definisi yang berbeda-beda, yang oleh Syekh Yusuf al-Rifa’i[6] dianalisa mencapai lebih kurang dua ribu definisi[7] dan yang paling simpel menurutnya adalah definisi tasawuf yang dibuat oleh Ibn ‘Ajibah[8], yaitu:
    صدق التوجه الى الله بما يرضاه و من حيث يرضاه
    “Kesungguhan tawajjuh (ibadah) kepada Allah dengan melaksanakan apa-apa yang diridloi-Nya sesuai dengan apa yang diridloi-Nya (diingini-Nya)”

    Al-Qonuji mendefinisikan tasawuf dengan;
    علم يعرف به كيفية ترقي أهل الكمال من النوع الإنساني في مدارج سعادتهم والأمور العارضة لهم في درجاتهم بقدر الطاقة البشرية [9]

    “Sebuah ilmu yang mempelajari bagaimana meningkatkan derajat kesempurnaan sebagai manusia dalam tingkatan-tingkatan kebahagiaan dan persoalan-persoalan yang menghadang (ujian) dalam upaya meningkatan derajat tersebut sesuai dengan kemampuan manusia.”

    Dari sekian definisi yang ada dapat dikatakan, bahwa tasawuf adalah moralitas Islam yang pembinaannya melalui proses tertentu (mujahadah dan riyadlah) dengan tetap berpegang teguh pada syariat Islam.

    2. Kedudukan Tasawuf dalam Ajaran Islam.
    Dan sufisme adalah bagian dari syari’ah Islamiyah, yakni wujud dari Ihsan, salah satu dari tiga kerangka ajaran Islam. Dua sebelumnya ialah Iman dan Islam. Oleh karena itu perilaku sufi harus tetap berada dalam kerangka syari’ah Islam. al­-Qusyairi mengatakan: “Seandainya kamu melihat seseorang yang diberi kemampuan khusus (keramat), sehingga ia bisa terbang di angkasa, maka jangan terburu tergiur padanya, sehingga kamu melihat bagaimana dia menjalankan perintah, meninggalkan larangan menjaga hukum yang ada.”[10]
    Sebagaimana dikatakan bahwa tasawuf adalah identik dengan Ihsan. Dalam hadits Nabi SAW dalam Sahih Muslim, Hadits No. 09;[11] arti ihsan ialah:
    أن تعبد الله كأنك تراه فإنك إن لا تراه فإنه يراك
    “Beribadah kepada Allah seakan-akan melihat-Nya, jika kalian tidak bisa melihat-Nya, maka harus diketahui bahwa Dia melihat kita”.

    Pernyataan ini mengandung makna ibadah dengan penuh ikhlas dan khusyu’, penuh ketundukan dengan cara yang baik.[12] Namun dalam pandangan penulis Hadits di atas mengindikasikan ada dua maqam (tingkatan) dalam beribadah, yaitu: pertama, maqam musyahadah; mampu melihat Allah dengan mata hati atau ilmu pengetahuan yang dimiliki. Kedua, maqam muraqabah; mampu menghadirkan Allah dalam kesehariannya, sehingga memunculkan rasa diawasi Allah. Kedua maqam itu sama-sama akan memberikan dampak khusu’ dalam beribadah. Dan ilmu tasawuf berusaha mencapai kedua maqam itu dan maqam-maqam yang lain.
    Ihsan meliputi semua tingkah laku muslim, baik tindak­an lahir maupun tindakan batin, dalam ibadah maupun mua­malah, sebab ihsan adalah jiwa atau roh dari iman dan islam. Iman sebagai pondasi yang ada pada jiwa seseorang dari hasil perpaduan antara ilmu dan keyakinan, penjelmaannya yang berupa tindakan badaniah (ibadah lahiriah) disebut Islam. Perpaduan antara iman dan islam pada diri seseorang akan menjelma dalam pribadi dalam bentuk akhlak al-karimah atau disebut ihsan[13] sebagaimana tersebut dalam surat Luqman/31: 22.
    Oleh karena itu, maka kedudukan tasawuf dalam ajaran Islam adalah sebuah bagian yang tidak dapat dipisahkan dari ajaran Islam itu sendiri. Karena memang dasar rujukan dalam tasawuf adalah al-Qur’an, al-Sunnah dan al-Atsar (peninggalan) para ulama terpercaya.[14] Maka dalam keyakinan ini pula, Imam al-Syatibi dalam kitabnya al-I’tisham membela mati-matian tasawuf dan para sufi dari tuduhan orang-orang yang menuduhnya sebagai ilmu yang keluar dari syariat Islam dan membersihkan para sufi dari julukan sebagai ahli bid’ah, bahkan beliau sebaliknya menjuluki orang yang menolak tasawuf dan para sufi sebagai orang bodoh yang ahli bid’ah. Dan beliau menegaskan bahwa para sufi adalah orang selalu menimbang awal perbuatan dan perkataannya dengan itba’ sunnah Nabi dan menjauhi segala yang dilarang dan bertentangan dengan sunnah Nabi.[15]
    Dukungan dan pembelaan terhadap tasawuf dan sufi tidak hanya datang dari Imam Syatibi sendirian, namum hampir sebagian besar ulama tradisional dan modern pun turut memperkuat barisan ini, seperti dituliskan Syekh Yusuf al-Rifa’i dalam bukunya bahwa diantara ulama-ulama tradisional (salaf) yang mendukung tasawuf dan para sufi adalah Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i, Imam Ahmad bin Hanbal, Imam Abdul Qahir al-Bagdadi, Imam Ghazali, Imam al-Razi, Imam Izzuddin Abd. Salam, Imam Nawawi, Imam Taj al-Din al-Subki, Imam Suyuthi dan lain-lain. Sedangkan dari kalangan ulama kontemporer, Syekh Yusuf al-Rifa’i mencantumkan fatwa-fatwa mufti timur tengah, yaitu: Syekh Muhammad al-Sayid al-Thanthawi (Syekh al-Azhar yang mantan mufti Mesir), Syekh Ahmad Kaftar (Mufti Suriah), Syekh Muhammad bin Ahmad Hasan al-Khozrazi (mantan menteri wakaf dan urusan Islam Uni Emirat Arab), Syekh Nuh Salman (Mufti militer Yordania), Stekh Hasan Kholid (Mufti Lebanon) dan Syekh al-Sayid Muhammad Abd. Rahman bin Syekh Abu Bakar bin Salim (Mufti Juzur Qamar).[16]
    Oleh karenanya, apabila tasawuf diperbandingkan dengan teologi, maka kedua-duanya mempunyai kesamaan tujuan, yakni ma’rifatullah (mengenal Allah), hanya saja berbeda dalam yang ditempuh. Teologi melalui pembuktian yang dapat diterima rasio, sedang tasawuf secara langsung dengan mata hati. Teologi mengkonstruksikan dan memahami keyakinan melalui rasio, sedang tasawuf berusaha merasakan keyakinan itu dengan Qalb (hati nurani). Adapun perbandingan dengan ilmu fiqh, kedua-duanya sama-­sama membicarakan bagaimana berkomunikasi dengan Allah SWT. hanya bedanya, fiqh lebih menitikberatkan pada lahiriah sedang tasawuf pada batiniyah. Fiqh memakai pendekatan legal formal, sedang tasawuf berbicara pada hakikat sesuatu dan memberi makna terhadap perilaku lahir itu dengan ikhlas dan menghindarkan diri dari sifat-sifat tercela. Meskipun demikian, secara keilmuan ketiganya dapat dibedakan dalam aspek metode, obyek dan tujuan, namun secara ideal ketiganya menyatu dalam pribadi secara utuh. Sehingga dapat diwujudkan akidahnya benar, ibadahnya benar serta dapat terselamatkan dari sifat-sifat tercela dan berhias dengan sifat-sifat terpuji.[17]
    AI-Hujwiri menyatakan. bahwa sufi adalah sebuah nama yang diberikan kepada wali-wali dan ahli-ahli kerohanian yang sempurna. Pengikut sufi ada tiga derajat, yaitu sufi, mutasawwif dan mustaswif. Sufi adalah yang mati pada dirinya dan hidup oleh Kebenaran: ia bebas dari batas-batas kemampuan manusiawi dan benar-benar telah sampai kepada Tuhan. Dan Mutasawwif adalah orang yang berusaha keras untuk mencapai tingkatan ini dengan cara menundukkan hati dan hawa nafsu (mujahadah) dan dalam pencariannya ia meluruskan tingkah lakunya sesuai dengan teladan mereka (para sufi). Sedanggkan Mustaswif adalah orang yang membuat dirinya secara lahiriah serupa dengan mereka (sufi-sufi) untuk sekedar mencari uang, kekayaan, kekuasaan serta keuntungan-keuntungan duniawi, tapi sedikitpun tidak mempunyai pengetahuan tentang kedua hal ini (kesufian dan tasawuf). Kaum sufi yang beutujuan mencari Tuhan menyebut dirinya sebagai pengembara (salik) la meningkat secara perlahan melalui tahap-tahap (maqomat) setelah melalui sejumlah lintasan (thuruqot) guna mencapai tujuan bersatu dengan kenyataan (al-Haqq).[18]
    Namun dalam pandangan penulis, istilah sufi dan mutaswwif adalah sama. Karena sama-sama orang yang sedang salik/berjalan menuju Allah SWT dengan melakukan mujahadah lahir dan batin dalam mendapatkan posisi yang dekat dengan Allah SWT. Dan dalam literatur klasik tidak ditemukan perbedaan antara dua istilah di atas, baru kemudian pada literatur modern ada upaya penjelas atau pembeda dengan munculnya tiga istilah di atas. Walau pada hakikatnya kita sulit membuktikan bahwa seseorang yang nyamar sebagai seorang sufi atau mutasawwif yang di sebut mustaswif itu bisa kita tuduhkan pada seseorang yang secara lahiriah seakan-akan ia mengeruk keuntungan duniawi dengan baju sufi, karena kita hanya bisa melihat secara lahiriyah dan batiniah seseorang kita tidak tahu.
    Tasawuf atau sufisme adalah salah satu dari jalan yang diletakkan oleh Tuhan untuk menunjukkan kehidupan rohani sesuai dengan ajaran AI-Qur’an. Tasawuf menarik kembali manusia dari keadaan assfala safilin yang hina dalam rangka meng­embalikannya ke dalam kesempurnaan.. Jalan mistik, sebagaimana lahir dalam bentuk tasawuf, adalah salah satu jalan di mana manusia berusaha mematikan nafsunva dalam rangka supaya lahir kembali di dalam Ilahi dan oleh karenanva mengalami persatuan dengan Yang Benar (al-Haqq). Ajaran-ajaran sufi berkisar di sekitar dua ajaran dasar; tentang kesatuan transenden wujud dan manusia universal atau manusia sempurna. Menjadi seorang wali dalam Islam adalah dengan melaksanakan semua kemunginan dari keadaan manusia menjadi insan kamil. [19]

    3. Sejarah Munculnya Tasawuf dan Sufi.
    Sebagaimana telah disinggung di atas bahwa menurut sebagain besar ahli sejarah mengatakan bahwa pada pertengahan abad kedua atau dipenghujung abad kedua adalah masa di mana munculnya istilah tasawuf dan sufi, walau hakikatnya secara praktis dan realita lapangan prilaku yang mencerminkan kesufian, -seperti ketawakalan, kesabaran dan rajin beribadah bahkan cenderung tajarrud/tajrid[20] (totalitas) dalam beribadah sehingga terkesan mengenyampingkan mutasabbib/kasab (bekerja) untuk kehidupan dunia- itu sudah ada sejak era sahabat yang hidup bersama Rasul SAW.
    Mereka adalah adalah sahabat Nabi SAW yang tinggal dan hidup di emper masjid Nabawi yang populer di kenal sebagai Ahl Suffah. Dan Nabi SAW men-taqrir (mendiamkan tanda setuju) apa yang dilakukan Ahl Suffah yang tajrid dalam ibadah dan tidak mutasabbib (tidak bekerja). Hal itu dikarenakan Nabi SAW melihat mereka kuat dan bisa mengambil manafaat dari ke-tajridan tersebut. Di samping Nabi SAW pun men-taqrir prilaku sebagian sahabat yang lain yang tidak tajrid tapi mutasabbib dalam mencari rizqi Allah SWT, karena memang Nabi SAW melihat hal itu lebih cocok bagi jenis sahabat yang tidak tinggal di emper masjid.[21]
    Senada dengan hal tersebut di atas, al-Qonuji menukil pendapatnya Imam al-Qusyairi bahwa hakikatnya tasuwuf dan sufi sudah lahir sejak lahirnya Islam itu sendiri, namun orang yang hidup pada generasi pertama bersama Nabi SAW tidak disebut kaum sufi, tapi sahabat Nabi SAW, karena tidak ada julukan yang paling pas dan mulia bagi mereka selain sebutan sahabat Nabi SAW. Begitupun bagi generasi kedua yang di kenal dengan nama tabi’in. Inilah perkataan Imam Qusyairi yang dinukil al-Qonuji dalam bukunya;
    قال القشيري : اعلموا أن المسلمين بعد رسول الله – صلى الله عليه وسلم – لم يتسم أفاضلهم في عصرهم بتسمية علىما سوى صحبة الرسول – صلى الله عليه وسلم – إذ لا أفضلية فوقها فقيل لهم الصحابة. ولما أدركهم أهل العصر الثاني سمي من صحب الصحابة : بالتابعين . ثم اختلف الناس وتباينت المراتب . فقيل لخواص الناس ممن لهم شدة عناية بأمر الدين : الزهاد والعباد. ثم ظهرت البدعة وحصل التداعي بين الفرق فكل فريق ادعوا أن فيهم زهادا فانفرد خواص أهل السنة المراعون أنفسهم مع الله – سبحانه وتعالى – الحافظون قلوبهم عن طوارق الغفلة باسم التصوف . واشتهر هذا الاسم لهؤلاء الأكابر قبل المائتين من الهجرة . انتهى [22]

    “ Imam al-Qusyari berkata: “Ketahuilah bahwa kaum muslimin sepeninggal Rasulullah SAW tidak dijuluki dengan julukan yang mencerminkan keutamaan mereka pada masa itu dengan nama selain nama para sahabat Nabi SAW, karena tidak ada nama yang lebih utama dan mulia selain nama tersebut. Begitu juga bagi generasi kedua, yaitu orang-orang yang belajar dan hidup bersama para sahabat tidak dinamai selain nam tabi’in. Namun pada generasi berikutnya (ketiga) saat kaum muslimin sudah berbeda-beda (kekutan iman dan ibadahnya), maka orang yang khusus yang teguh memegang dan mengamalkan agamanya dikenal dengan sebutan zuhhad (jamaknya zahid; orang yang zuhud) dan Ubbad (jamaknya abid; orang yang ahli ibadah). Kemudian bid’ah meluas di mana-mana dan saling membanggakan golongannya masing-masing; setiap kelompok mengklaim bahwa mereka memilki orang-orang zahid dan abid. Oleh sebab itu sebagian orang khusus (zahid atau abid) dari golongan ahlus sunnah wal jama’ah yang hanya mencari ridlo Allah SWT dan selalu menjaga hatinya dari bisikan-bisikan yang melalaikan Allah SWT, maka mereka inilah yang disebut kaum sufi yang mengamalkan ilmu tasawuf sehingga nama ini mulai terkenal dan melekat pada tokoh-tokoh sufi sejak sebelum abad kedua Hijriah.”

    Imam Ibn Kholdun[23] pun berpendapat sama dengan Imam al-Qusyairi; yang pendapat beliau dinukil al-Qonuji dalam kitabnya:
    قال عبد الرحمن بن خلدون : هذا العلم من العلوم الشرعية الحادثة في الملة وأصله : أن طريقة هؤلاء القوم لم تزل عند سلف الأمة وكبارها من الصحابة والتابعين. [24]

    “Abdurahman bin Kholdun berkata: “Ilmu (tasawuf) ini termasuk bagian dari ilmu syariat yang baru lahir dalam Islam (baru dalam pengertian menjadi sebuah ilmu yang teoritis dan independen-penulis). Dan pondasi yang membentuknya adalah mereka (para sufi) adalah orang-orang yang berpegang ada prilaku tokoh-tokoh umat Islam, yaitu para sahabat dan tabi’in.”

    Memang mengenai asal-usul atau timbulnya sufisme dalam Islam. terdapat berbagai teori yang berbeda-beda. Ada yang mengatakan pengaruh ajaran Kristen dengan faham menjauhi dunia dan hidup mengasingkan diri dalam biara-biara. Atau ajaran filsafat mistik Pythagoras untuk meninggalkan dunia dan pergi berkontemplasi juga dipandang mempengaruhi timbulnya zuhud dan sufisme dalam Islam. Demikian pula filsafat emanasi Plotinus yang mengatakan bahwa wujud ini memancar dari zat Tuhan Yang Maha Esa. Roh berasal dari Tuhan, dan karena pengaruh dunia materi roh menjadi kotor, dan untuk dapat kembali ke alam asalnya roh terlebih dahulu harus dibersihkan dengan meninggalkan dunia dan mendekati Tuhan sedekat mungkin, kafau bisa bersatu dengan Tuhan. Dikatakan, filsafat ini mempunyai pengaruh terhadap munculnya kaum wihdah al-wujud (manunggaling kawula-Gusti) dan sufi dalam Islam. Bahkan ajaran Buddha dengan faham nirwananya dan ajaran Hinduisme yang mendorong manusia untuk meninggalkan dunia dan mendekati Tuhan untuk mencapai persatuan Atman dengan Tan Brahman juga dianggap berpengaruh terhadap sufisme Islam. Namun penelitian modern telah membuktikan bahwa asal-usul sufisme tidak dapat dilacak hanya melalui satu lintasan tunggal saja. Sufisme adalah sesuatu yang rumit, tak ada jawaban yang bersahaja. Ada pengaruh-pengaruh non Islami, Nasrani, Neoplatonisme, Gynostisisme dan Buddhisme dan pengaruh eksternal itu bisa saja terjadi. tetapi laku tasawuf itu sebenarnya telah inheren dalam ajaran Islam. Dalam Al Qur’an Tuhan menerangkan diri-Nya sebagai al-Dzahir (Lahir) dan yang al-Bathin (Batin). Karena itu. semua realitas dari dunia ini juga memilki aspek lahir (eksoteris) dan batin (esoteris). Dalam Islam dimensi batin atau esoteris dari wahyu ini sebagian besar berhubungan dengan tasawuf.[25]
    Maka dari sudut pandang Islam; Tasawuf seperti al-din atau al-Islam dalam pengertiannya yang universal adalah abadi dan sekaligus universal. Hal ini tidak berarti bahwa adalah mungkin melaksanakan tasawuf di luar kerangka Islam. Tasawuf yang bisa dilaksanakan secara sah harus merupakan sesuatu yang bersumber dari wahyu AI-Qur’an. Seseorang tidak dapat melaksanakan esoterisme Buddha dalam konteks syariat Islam atau sebaliknya.[26] Dan kalau ada persamaan antara ajaran tasawuf dengan ajaran agama lain; baik dengan ajaran agama samawi (seperti, Yahudi dan Kristen) atau non samawi (seperti, Hindu dan Budha) itu adalah sesuatu hal yang tidak mustahil terjadi. Ajaran Islam saja dengan ajaran samawi lainnya bukankah memilki kesamaan sumber, yaitu sama-sama bersumber dari Allah SWT, bukankah ibadah dalam Islam seperti khitan, kurban, haji, puasa dan lain-lain adalah warisan dari ibadah umat terdahulu. Adapun adanya persamaan ajaran tasawuf dengan ajaran agama non samawi itu adalah sebuah kebetulan saja; bukankah cara berpakaian para biksu agama Budha sama persis dengan orang yang sedang berpakaian kain ihram untuk ibadah haji atau umrah, yaitu sama-sama dari dua helai kain tidak berjait dan sama-sama membuka lengan kanan dalam memakainya, walau ada perbedaan tapi dari warna kainnya saja. Lalu apakah langsung kita katakan bahwa haji dan umrah adalah dipengaruhi ajaran Budha?
    Lalu siapakah yang di maksud para sufi atau mutasawwif pada zaman sekarang ini? Ada analisa dan ungkapan menarik dan sederhana yang disampaikan Syekh Yusuf al-Rifai dalam bukunya ketika mendiskripsikan siapakah yang bisa di sebut sufi pada masa ini. Beliau menulis dalam pengantar bukunya al-Sufiyah wa al-Tasawwuf fi Dlau al-Kitab wa al-Sunnah sebagai berikut;
    “Julukan sufi, jika dimutlakkan pada zaman sekarang ini, maka yang dimaksud adalah mayoritas kaum muslimin yang bertaqlid pada salah satu Imam empat mazhab (Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hanbali) dalam masalah al-Furu’ (mazhab fiqh) dan secara ushul (aqidah) mengikuti pada salah satu dari beberapa ulama salaf yang salih, maka sebagian mereka berpegang teguh pada prinsip teologi Imam Abu Hasan al-Asy’ari yang menjadi pegangan hampir sebagian besar golongan ahlus sunnah wal jama’ah di hampir seluruh penjuru dunia. Prinsip ajaran mazhab ahlus sunnah wal jama’ah ini (yang bermazhab fiqh pada salah satu Imam empat mazhab dan berteologi dengan teologi Asy’ariyyah) adalah ajaran yang sampai sekarang di ajarkan dan dipraktekkan di hampir sebagian besar negara Islam, seperti Universitas al-Azhar Mesir, kecuali lembaga-lembaga pendidikan Islam di negara Saudi Arabia atau negara lain yang dalam naungan dan bantuan saudi Arabia yang berpegangan pada prinsip ajaran Islam yang digagas oleh Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab dan para pengikutnya (Wahhabiyyah) yang menamakan diri dengan nama “al-Da’wah al-Salafiyyyah”. Identitas sufi atau sufiyyah pada zaman ini juga identik dengan kaum muslimin yang merayakan peringatan-peringatan hari besar Islam bahkan menjadi hari libur nasional, seperti peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, Isra’ mi’raj dan lain-lain. Di samping itu mereka tetap menjaga tradisi ziarah kubur ke makam Nabi Muhammad SAW setelah atau sebelum ibadah haji, mengkhatamkan al-Qur’an saat ada kematian, menggunakan hitungan tasbih dalam berzikir pada Allah (atau bershalawat pada Nabi SAW), mentalqin mayit (saat naza’ dan baru selesai dikuburkan), berziarah kubur (pada orang tua, kerabat dan sesama muslim) saat hari raya atau momentum lainnya untuk menganbil pelajaran kematian (kesadaran akan tibanya ajal) dan menghadiahkan pahala baca al-Qur’an (atau tahlil, tasbih, takbir, shalawat dan lainnya) pada arwah-arwah mereka dan masih banyak lagi prilaku-prilaku keagamaan yang telah membudaya dan mentradisi di tengah masyarakat Islam sejak jaman lampau (sebelum munculnya wahabiyyah dan tidak ada penolakan dari ulama-ulama besar saat itu dan hal ini terus bertahan sampai sekarang walau mendapat rongrongan dan penolakan kaum wahabiyyah). Walhasil tradisi sufi ini adalah tradisi mayoritas umat Islam (maka hakikatnya mayoritas umat Islam adalah para sufi) dan mayoritas umat Islam ini dalam Hadits Nabi SAW disebut dengan al-Sawad al-A’adlom. Dan Nabi SAW memerintahkan umatnya untuk tetap berada pada barisan al-Sawad al-A’adlam: “Alaikum bi al-Sawad al-A’adlom!”[27]

    B. Sufisme dan Gerakan Tarekat
    1. Pengertian Tarekat
    Kata Tarekat di ambil dari bahasa arab, yaitu dari kata benda thoriqoh yang secara etimologis berarti jalan, metode atau tata cara. Adapun tarekat dalam terminologis (pengertian) ulama sufi; yang dalam hal ini akan saya ambil definisi tarekat menurut Syekh Muhammad Amin al-Kurdi al-Irbili al-Syafi al-Naqsyabandi[28] dalam kitab Tanwir al-Qulub-nya[29] adalah;

    ”Tarekat adalah beramal dengan syariat dengan mengambil/memilih yang azimah (berat) daripada yang rukhshoh (ringan); menjauhkan diri dari mengambil pendapat yang mudah pada amal ibadah yang tidak sebaiknya dipermudah; menjauhkan diri dari semua larangan syariat lahir dan batin; melaksanakan semua perintah Allah SWT semampunya; meninggalkan semua larangan-Nya baik yang haram, makruh atau mubah yang sia-sia; melaksanakan semua ibadah fardlu dan sunah; yang semuamnya ini di bawah arahan, naungan dan bimbingan seorang guru/syekh/mursyid yang arif yang telah mencapai maqamnya (layak menjadi seorang Syekh/Mursyid).”[30]

    Dari definisi di atas dapat kita simpulkan bahwa tarekat adalah beramal dengan syariat Islam secara azimah (memilih yang berat walau ada yang ringan, seperti rokok ada yang berpendapat haram dan makruh, maka lebih memilih yang haram) dengan mengerjakan semua perintah baik yang wajib atau sunah; meninggalkan larangan baik yang haram atau makruh bahkan menjauhi hal-hal yang mubah (boleh secara syariat) yang sia-sia (tidak bernilai manfaat; minimal manfaat duniawiah) yang semuanya ini dengan bimbingan dari seorang mursyid/guru guna menunjukan jalan yang aman dan selamat untuk menuju Allah (ma’rifatullah), maka posisi guru di sini adalah seperti seorang guide yang hafal jalan dan pernah melalui jalan itu sehingga jika kita dibimbingnya akan dipastikan kita tidak akan tersesat jalan dan sebaliknya jika kita berjalan sendiri dalam sebuah tujuan yang belum diketahui, maka kemungkinan besar kita akan tersesat apalagi jika kita tidak membawa peta petunjuk. Namun mursyid dalam tarekat tidak hanya membimbing secara lahiriah saja, tapi juga secara batiniah bahkan juga berfungsi sebagai mediasi antara seorang murid/salik dengan Rasulullah SAW dan Allah SWT.
    Dengan bahasa yang lebih mudah, tarekat adalah sebuah kendaraan baik berupa bis, kapal laut atau pesawat terbang yang disopiri oleh seseorang yang telah punya izin mengemudi dan berpengalaman untuk membawa kendaraannya dengan beberapa penumpang di dalamnya untuk mencapai tujuan.
    Tasawuf dapat dipraktekkan dalam setiap keadaaan di mana manusia menemukan dirinya, dalam kehidupan tradisional maupun modern. Tarekat adalah salah satu wujud nyata dari tasawuf. Ia lebih bercorak tuntunan hidup praktis sehari-hari daripada corak konseptual yang filosofis. Jika salah satu tujuan tasawuf adalah al-Wushul ila Allah SWT (sampai kepada Allah) dalam arti ma’rifat, maka tarekat adalah metode, cara atau jalan yang perlu ditempuh untuk mencapai tujuan tasawuf tersebut. [31]
    Tarekat berarti jalan seorang salik (pengikut tarekat) menuju Tuhan dengan cara menyucikan diri, atau perjalanan yana ditempuh oleh seseorang untuk mendekatkan diri sedekat mungkin kepada Tuhan. Orang yang bertarekat harus dibimbing oleh guru yang disebut mursyid (pembimbing) atau Syaikh. Syaikh atau mursyid inilah yang bertanggung jawab terhadap murid-muridnya dalam kehidupan lahiriah serta rohaniah dan pergaulan sehari-hari. Bahkan ia menjadi perantara (washilah) antara murid dan Tuhan dalam beribadah. Karena itu, seorang Syaikh haruslah sempurna dalam ilmu syariat dan hakekat. Di samping itu, untuk (dapat) wenjadi guru, ustadz atau Syaikh diperlukan syarat-syarat tertentu yang mencerminkan sikap orang tua yang berpribadi akhlak karimah dan budi pekerti yang luhur.[32]

    2. Macam-Macam Tarekat
    Di dunia Islam, tarekat berkembang pe


  12. Salah satu karomah Abah Anom adalah jauh2 hari sebelum Syeh Nazim datang Abah Anom telah mengabarkan akan kedatangannya. Sungguh Aneh jika ada yg menyebutkan Abah Anom yg mengundang Syeh Nazim datang ke Suryalaya apalagi skedar ambil bai’at kepada Syeh Nazim ini Sungguh keliru. KH. Wahfiudin yg mendampingi Syeh Nazim slama di Indonesia ditunjuk oleh Syeh sebagai penerjemah telah menegaskan tidak ada bai’at Abah Anom kepada Syeh Nazim bahkan KH. Wahfiudin menceritakan secara detail maksud Syeh berkunjung ke Indonesia.

    Kisah ini diambil dari majalah nuqthoh terbitan yang no 9 tanggal 26 januari 2010 M, hal 32 dengan judul “Mengenal Abah Anom melalui pandangan batinnya” .

    MENGAKUI KEMULIAAN ABAH ANOM Kurang dari 40 hari menjelang wafatnya Beliau Sayyid Muhammad Al-Maliki ra. Salah seorang santrinya asal garut bernama KH. Dodi Firmansyah ditanya oleh almarhum. Kiyai muda asal Garut tersebut terperanjat saat al-‘alamah tersebut m,enanyakan sosok guru yang telah menanamkan kalimat agung dilubuk hatinya. Lebih terkejut lagi saat Ulama tersebut “tercekat” sewaktu disebutkan nama Syekh Ahmad Shohibul wafa Tajul ‘Arifin. Secara sepontan Beliau menyebutkan bahwa Syekh ahmad Shohibul wafa Tajul ‘Arifin adalah Sulthonul Awliya fi hadza zaman ( Rajanya para wali jaman sekarang ) bahkan beliaupun menyebutkan Qoddasallohu sirrohu bukan rodliyallohu ‘anhu seperti yang kebanyakan disebutkan oleh para ikhwan. Walaupun secara dhohir Syekh Muhammad Alawy Al-Maliki belum bertemu dengan pangersa Abah namun keduanya telah mengenal di alam ruhani yang tak dibatasi ruang dan waktu.

    PROFIL ATAU BIOGRAFI SAYYID MUHAMMAD BIN ‘ALAWI AL-MALIKI RA

    Sayyid Prof. Dr. Muhammad ibn Sayyid ‘Alawi ibn Sayyid ‘Abbas ibn Sayyid ‘Abdul ‘Aziz al-Maliki al-Hasani al-Makki al-Asy’ari asy-Syadzili lahir di Makkah pada tahun 1365 H. Pendidikan pertamanya adalah Madrasah Al-Falah, Makkah, dimana ayah beliau Sayyid Alawi bin Abbas al Maliki sebagai guru agama di sekolah tersebut yang juga merangkap sebagai pengajar di halaqah di Haram Makki, dekat Bab As-salam.Ayah beliau, Sayyid Alwi bin Abbas Al-Maliki (kelahiran Makkah th 1328H), seorang alim ulama terkenal dan ternama di kota Makkah. Disamping aktif dalam berdawah baik di Masjidil Haram atau di kota kota lainnya yang berdekatan dengan kota Makkah seperti Thoif, Jeddah dll, Sayyid Alwi Almaliki adalah seorang alim ulama yang pertama kali memberikan ceramah di radio Saudi setelah salat Jumat dengan judul “Hadist al-Jumah” profil beliau selanjutnya bisa dibuka di alamat http://cupi-flight29.blog.friendster.com halaman atau judul Sayyid Muhammad ibn Alwi Al-Maliki

    Sekilas profil KH.Dodi Firmansyah Usianya masih muda kelahiran garut tahun 1978. Sejak usia SMP ia dikenal ahli hikmah sedangkan ketertarikan dalam dunia tasawwuf ia ke Pondok Pesanttren Suryalaya sejak dimulai kelas 4 SD . Kiayi ini pernah di didik langsung oleh almarhum Al-Alamah Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki ra di mekkah selama 6 tahun. Pulang mesantren dari mekkah pada tahun 2006, kiyai ini menikah dengan Hj.Siti Fatimah putrid seorang pengusaha asal tasik Malaya dan dikaruniai putra yang diberinama M.Lutfi L. Makki Majalah Noqthoh hal. 41: Pendapat KH.Dodi tentang sosok Pangersa Abah Anom : Saya tidak bias mengungkapkannya dengan kata-kata. Cukuplah 2 pendapat Ulama kelas dunia yang mengomentarinya. Pertama ungkapan dari guru saya sendiri di mekkah, yaitu Sayyid Muhammad bin Alawy bin Abbas Al-Maliki ra. Beliau sendiri yang mengungkapkan bahwa Syekh Ahmad Shohibul wafa Tajul ‘Arifin qs. Adalah Sulthon Awliya fi Hadza Zaman dan kedua Mursyid Kammil Mukammil Thoriqoh Naqsyabandi Al-Haqqani, As-Sayyid Al-‘Alamah Al-‘Arif billah Syekh Mohammad Nazim Adil al-Haqqani, sufi kenamaan dari Cyprus yang menyebutkan Pangersa Abah (Syekh Ahmad Shohibul wafa Tajul ‘Arifin qs) adalah Sufi agung di timur jauh.

    Dalam majalah sintoris (Sinar thoriqoh islam) disebutkan As-Sayyid Al-‘Alamah Al-‘Arif billah Syekh Mohammad Nazim Adil al-Haqqani ra mengatakan bahwa Syekh Ahmad Shohibul wafa Tajul ‘Arifin qs adalah wali agung ditimur jauh. hal itu pernah disampaikan juga di kampus oleh KH.Wafiuddin setelah mendampingi syekh Mohammad Nazim Adil al-Haqqani ke P.P.Suryalaya.

    Bagi yang ingin berlangganan majalah tasawuf nuqthoh, sinthoris, atau tabloid tentang tasawuf robithoh.Bisa Hubungi Kiai Ayi abdul Jabbar dengan no. contak 081395124170


  13. Syeh Nazim telah menegaskan : Maka Anda sekalian para hadirin, ambillah Nur Illahi itu dari QOLBU Syeh A. Shohibul WafaTajul Arifin saat ini. Mumpung beliau masih ada, mumpung beliau masih hadir di tengah kita, SULUTKAN NUR ILLAHI dari QOLBU BELIAU kepada qolbu anda masing-masing.
    Di hadapan beliau SAYA TERLALU MALU UNTUK TIDAK MENGAMBIL apa yang ada pada QOLBU BELIAU. Saya malu untuk berbicara hanya dengan apa yang ada pada qolbu saya sendiri.
    KH. Wahfiudin adalah murid Syeh Nazim orang kpercayan Syeh bahkan ditunjuk tuk mendampingi menerjemahkan smua ucapan Syeh Nazim Selama berkunjung di Indonesia. KH. Wahfiudin telah menegaskan tidak ada bai’at Abah Anom dengan Syeh Nazim. KH. Wahfiudin merasa perlu mengungkapkan ini semua jangan sampai ada kekeliruan/kesalah pahaman diantara kita semua.
    KEDUDUKAN SYEIKH AHMAD SHOHIBUL WAFA TAJUL ARIFIN QS. (ABAH ANOM) DALAM PANDANGAN SAYYID MUHAMMAD BIN ‘ALAWI AL-MALIKI AL-HASANI RA
    Kisah ini diambil dari majalah nuqthoh terbitan yang no 9 tanggal 26 januari 2010 M, hal 32 dengan judul “Mengenal Abah Anom melalui pandangan batinnya”
    MENGAKUI KEMULIAAN ABAH ANOM Kurang dari 40 hari menjelang wafatnya Beliau Sayyid Muhammad Al-Maliki Al-Hasani ra. Salah seorang santrinya asal garut bernama KH. Dodi Firmansyah ditanya oleh almarhum. Kiyai muda asal Garut tersebut terperanjat saat al-‘alamah tersebut menanyakan sosok guru yang telah menanamkan kalimat agung dilubuk hatinya. Lebih terkejut lagi saat Ulama tersebut “tercekat” sewaktu disebutkan nama Syekh Ahmad Shohibul wafa Tajul ‘Arifin. Secara sepontan Beliau menyebutkan bahwa Syekh ahmad Shohibul wafa Tajul ‘Arifin adalah Sulthonul Awliya fi hadza zaman ( RAJANYA PARA WALI JAMAN SEKARANG ) bahkan beliaupun menyebutkan QODDASALLAHU SIRROHU bukan rodliyallohu ‘anhu seperti yang kebanyakan disebutkan oleh para ikhwan. Walaupun secara dhohir Syekh Muhammad Alawy Al-Maliki belum bertemu dengan pangersa Abah namun keduanya telah mengenal di alam ruhani yang tak dibatasi ruang dan waktu.
    BIOGRAFI SAYYID MUHAMMAD BIN ‘ALAWI AL-MALIKI RA
    Sayyid Prof. Dr. Muhammad ibn Sayyid ‘Alawi ibn Sayyid ‘Abbas ibn Sayyid ‘Abdul ‘Aziz al-Maliki al-Hasani al-Makki al-Asy’ari asy-Syadzili lahir di Makkah pada tahun 1365 H. Pendidikan pertamanya adalah Madrasah Al-Falah, Makkah, dimana ayah beliau Sayyid Alawi bin Abbas al Maliki sebagai guru agama di sekolah tersebut yang juga merangkap sebagai pengajar di halaqah di Haram Makki, dekat Bab As-salam.Ayah beliau, Sayyid Alwi bin Abbas Al-Maliki (kelahiran Makkah th 1328H), seorang alim ulama terkenal dan ternama di kota Makkah.
    Sekilas profil KH.Dodi Firmansyah Usianya masih muda kelahiran garut tahun 1978. Sejak usia SMP ia dikenal ahli hikmah sedangkan ketertarikan dalam dunia tasawwuf ia ke Pondok Pesanttren Suryalaya sejak dimulai kelas 4 SD . Kiayi ini pernah di didik langsung oleh almarhum Al-Alamah Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki ra di mekkah selama 6 tahun. Pulang mesantren dari mekkah pada tahun 2006, kiyai ini menikah dengan Hj.Siti Fatimah putrid seorang pengusaha asal tasik Malaya dan dikaruniai putra yang diberinama M.Lutfi L. Makki Majalah Noqthoh hal. 41: Pendapat KH.Dodi tentang sosok Pangersa Abah Anom : Saya tidak bisa mengungkapkannya dengan kata-kata. Cukuplah 2 pendapat Ulama kelas dunia yang mengomentarinya. Pertama ungkapan dari guru saya sendiri di mekkah, yaitu Sayyid Muhammad bin Alawy bin Abbas Al-Maliki Al-Hasani ra. Beliau sendiri yang mengungkapkan bahwa Syekh Ahmad Shohibul wafa Tajul ‘Arifin qs. Adalah Sulthon Awliya fi Hadza Zaman dan kedua Mursyid Kammil Mukammil Thoriqoh Naqsyabandi Al-Haqqani, As-Sayyid Al-‘Alamah Al-‘Arif billah Syekh Mohammad Nazim Adil al-Haqqani, sufi kenamaan dari Cyprus yang menyebutkan Pangersa Abah (Syekh Ahmad Shohibul wafa Tajul ‘Arifin qs) adalah Sufi agung di timur jauh.
    Dalam majalah sintoris (Sinar thoriqoh islam) disebutkan As-Sayyid Al-‘Alamah Al-‘Arif billah Syekh Mohammad Nazim Adil al-Haqqani ra mengatakan bahwa Syekh Ahmad Shohibul wafa Tajul ‘Arifin adalah WALI AGUNG DITIMUR JAUH.. hal itu pernah disampaikan juga di kampus oleh KH.Wafiuddin setelah mendampingi syekh Mohammad Nazim Adil al-Haqqani ke P.P.Suryalaya.
    ini ada cerita menarik Subhan teman Dosen IAILM Suryalaya pernah berkunjung ke Martapura silaturahmi kepada Wali Mursyid yg masyhur yang di kunjungi para alim ulama Habaib dari belahan Dunia Tuan Guru A. Zaini Abdul Ghani Al-Idrus yang lebih dikenal dengan Tuan Guru Ijai menyebutkan SYEH A. SHOHIBUL WAFA TAJUL ARIFIN ADALAH LAUTAN THORIQOH.
    Bagi yang ingin berlangganan majalah tasawuf nuqthoh, sinthoris, atau tabloid tentang tasawuf robithoh.Bisa Hubungi Kiai Ayi abdul Jabbar dengan no. contak 081395124170.

    Salam Untuk Wali Mursyid
    السَّلَامُ عَلَيْكَ – Salam untukmu —
    يَا مَالِكَ الزَّمَانِ wahai penguasa zaman,
    وَ يَا إِمَامَ الْمَكَانِ pemimpin wilayah,
    وَ يَا قَائِمَ بِأَمْرِ الرَّحْمَانِ penegak ketentuan ar-Rahman,
    وَ يَا وَارِثَ الْكِتَابِ pewaris kitab,
    وَ يَا نَائِبَ الرَّسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ wakil Rasulullah s.a.w.,
    يَا مَنْ مِنَ السَّمَاءِ وَ الْأَرْضِ عَائِدَتُهُ yang selalu pergi pulang antara bumi dan langit,
    يَا مَنْ أَهْلَ وَقْتِهِ كُلُّهُمْ عَائِلَتُهُ yang orang-orang sezamannya adalah keluarganya,
    يَا مَنْ يُنَـزَّلُ الْغَيْثُ بِدَعْوَتِهِ yang diturunkan pertolongan karena doanya,
    وَ يُدَرُّ الضَّرْعُ بِبَرَكَتِهِ - yang dikucurkan limpahan susu karena keberkahannya —
    وَ رَحْمَةُ اللهِ وَ بَرَكَاتُهُ – الْفَاتِحَةُ beserta rahmat Allah dan keberkahanNya, al-Fatihah…


  14. Ini ada cerita menarik dari Subhan seorang Dosen IAILM Suryalaya pernah berkunjung ke Martapura silaturahmi kepada Wali Mursyid yg masyhur yang di kunjungi para alim ulama Habaib dari belahan dunia As-Sayyid Al-‘Alamah Al-‘Arif billah Syekh Ahmad Zaini Abdul Ghani Al-Idrus yang lebih dikenal dengan Tuan Guru Ijai keturunan Syeikh Muhammad Arsyad bin Abdullah bin Abdur Rahman al-Banjari bin Saiyid Abu Bakar bin Saiyid Abdullah al-’Aidrus bin Saiyid Abu Bakar as-Sakran bin Saiyid Abdur Rahman as-Saqaf bin Saiyid Muhammad Maula ad-Dawilah al-’Aidrus. Tuan Guru Ijai menyebutkan SYEH A. SHOHIBUL WAFA TAJUL ARIFIN ADALAH LAUTAN THORIQOH.


  15. ini ada cerita menarik Subhan teman Dosen IAILM Suryalaya pernah berkunjung ke Martapura silaturahmi kepada Wali Mursyid yg masyhur yang di kunjungi para alim ulama Habaib dari belahan Dunia Alimul ‘allamah Al ‘Arif Billah Asy-Syekh H. Muhammad Zaini Abd. Ghani ( Tuan Guru Ijai ) bin Al ‘arif Billah Abd. Ghani bin H. Abd. Manaf bin Muh. Seman bin H. M, Sa’ad bin H. Abdullah bin ‘Alimul ‘allamah Mufti H. M. Khalid bin ‘Alimul ‘allamah Khalifah H. Hasanuddin bin Syekh Muhammad Arsyad bin Abdullah bin Abdur Rahman al-Banjari bin Saiyid Abu Bakar bin Saiyid Abdullah al-’Aidrus bin Saiyid Abu Bakar as-Sakran bin Saiyid Abdur Rahman as-Saqaf bin Saiyid Muhammad Maula ad-Dawilah al-’Aidrus. Tuan Guru Ijai menyebutkan SYEH A. SHOHIBUL WAFA TAJUL ARIFIN ADALAH LAUTAN THORIQOH.

    Bagi yang ingin berlangganan majalah tasawuf nuqthoh, sinthoris, atau tabloid tentang tasawuf robithoh.Bisa Hubungi Kiai Ayi abdul Jabbar dengan no. contak 081395124170.

    Salam Untuk Wali Mursyid

    السَّلَامُ عَلَيْكَ – Salam untukmu —
    يَا مَالِكَ الزَّمَانِ wahai penguasa zaman,
    وَ يَا إِمَامَ الْمَكَانِ pemimpin wilayah,
    وَ يَا قَائِمَ بِأَمْرِ الرَّحْمَانِ penegak ketentuan ar-Rahman,
    وَ يَا وَارِثَ الْكِتَابِ pewaris kitab,
    وَ يَا نَائِبَ الرَّسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ wakil Rasulullah s.a.w.,
    يَا مَنْ مِنَ السَّمَاءِ وَ الْأَرْضِ عَائِدَتُهُ yang selalu pergi pulang antara bumi dan langit,
    يَا مَنْ أَهْلَ وَقْتِهِ كُلُّهُمْ عَائِلَتُهُ yang orang-orang sezamannya adalah keluarganya,
    يَا مَنْ يُنَـزَّلُ الْغَيْثُ بِدَعْوَتِهِ yang diturunkan pertolongan karena doanya,
    وَ يُدَرُّ الضَّرْعُ بِبَرَكَتِهِ – yang dikucurkan limpahan susu karena keberkahannya —
    وَ رَحْمَةُ اللهِ وَ بَرَكَاتُهُ – الْفَاتِحَةُ beserta rahmat Allah dan keberkahanNya, al-Fatihah…


  16. ini ada cerita menarik Subhan teman Dosen IAILM Suryalaya pernah berkunjung ke Martapura silaturahmi kepada Wali Mursyid yg masyhur yang di kunjungi para alim ulama Habaib dari belahan Dunia Alimul ‘allamah Al ‘Arif Billah Asy-Syekh H. Muhammad Zaini Abd. Ghani ( Tuan Guru Ijai ) bin Al ‘arif Billah Syekh Abd. Ghani bin Syekh Abd. Manaf bin Syekh Muh. Seman bin Syekh. M, Sa’ad bin Syekh Abdullah bin ‘Alimul ‘allamah Mufti Syekh. M. Khalid bin ‘Alimul ‘allamah Khalifah Syekh. Hasanuddin bin Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari.
    Mufti Kesultanan Indragiri Syekh Abd Rahman Shiddiq, berpendapat bahwa Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari adalah keturunan Alawiyyin melalui jalur Sultan Abdurrasyid Mindanao.
    Jalur nasabnya ialah Maulana Muhammad Arsyad Al Banjari bin Abdullah bin Abu Bakar bin Sultan Abdurrasyid Mindanao bin Abdullah bin Abu Bakar Al Hindi bin Ahmad Ash Shalaibiyyah bin Husein bin Abdullah bin Syaikh bin Abdullah Al Idrus Al Akbar (datuk seluruh keluarga Al Aidrus) bin Abu Bakar As Sakran bin Abdurrahman As Saqaf bin Muhammad Maula Dawilah bin Ali Maula Ad Dark bin Alwi Al Ghoyyur bin Muhammad Al Faqih Muqaddam bin Ali Faqih Nuruddin bin Muhammad Shahib Mirbath bin Ali Khaliqul Qassam bin Alwi bin Muhammad Maula Shama’ah bin Alawi Abi Sadah bin Ubaidillah bin Imam Ahmad Al Muhajir bin Imam Isa Ar Rumi bin Al Imam Muhammad An Naqib bin Al Imam Ali Uraidhy bin Al Imam Ja’far As Shadiq bin Al Imam Muhammad Al Baqir bin Al Imam Ali Zainal Abidin bin Al Imam Sayyidina Husein bin Al Imam Amirul Mu’minin Ali Karamallah wa Sayyidah Fatimah Az Zahra binti Rasulullah SAW.
    Tuan Guru Ijai menyebutkan SYEH A. SHOHIBUL WAFA TAJUL ARIFIN ADALAH LAUTAN THORIQOH.


  17. Subhan seorang Dosen IAILM Suryalaya pernah silaturahmi kepada Tuan Guru Ijai Martapura Kalimantan Selatan. Tuan guru Ijai menyebutkan SYEH A. SHOHIBUL WAFA TAJUL ARIFIN ADALAH LAUTAN THORIQOH..

    Tuan Guru Ijai dikenal sebagai seorang Wali Mursyid yg masyhur yang di kunjungi para alim ulama Habaib dari belahan dunia nama lengkapnya Alimul ‘allamah Al ‘Arif Billah Asy-Syekh Muhammad Zaini Abd. Ghani ( Tuan Guru Ijai ) bin Al ‘arif Billah Syekh Abd. Ghani bin Syekh Abd. Manaf bin Syekh Muh. Seman bin Syekh. M, Sa’ad bin Syekh Abdullah bin ‘Alimul ‘allamah Mufti Syekh. M. Khalid bin ‘Alimul ‘allamah Khalifah Syekh. Hasanuddin bin Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari.
    Seorang Wali besar Mufti Kesultanan Indragiri Syekh Abd Rahman Shiddiq, berpendapat bahwa Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari adalah keturunan Alawiyyin melalui jalur Sultan Abdurrasyid Mindanao.

    Jalur nasabnya ialah Maulana Muhammad Arsyad Al Banjari bin Abdullah bin Abu Bakar bin Sultan Abdurrasyid Mindanao bin Abdullah bin Abu Bakar Al Hindi bin Ahmad Ash Shalaibiyyah bin Husein bin Abdullah bin Syaikh bin Abdullah Al Idrus Al Akbar (datuk seluruh keluarga Al Aidrus) bin Abu Bakar As Sakran bin Abdurrahman As Saqaf bin Muhammad Maula Dawilah bin Ali Maula Ad Dark bin Alwi Al Ghoyyur bin Muhammad Al Faqih Muqaddam bin Ali Faqih Nuruddin bin Muhammad Shahib Mirbath bin Ali Khaliqul Qassam bin Alwi bin Muhammad Maula Shama’ah bin Alawi Abi Sadah bin Ubaidillah bin Imam Ahmad Al Muhajir bin Imam Isa Ar Rumi bin Al Imam Muhammad An Naqib bin Al Imam Ali Uraidhy bin Al Imam Ja’far As Shadiq bin Al Imam Muhammad Al Baqir bin Al Imam Ali Zainal Abidin bin Al Imam Sayyidina Husein bin Al Imam Amirul Mu’minin Ali Karamallah wa Sayyidah Fatimah Az Zahra binti Rasulullah SAW. http://id.wikipedia.org/wiki/Muhammad_Arsyad_al-Banjari_bin_Abdullah_Al_Aidrus.

    ‘Alimul ‘allamah Al ‘Arif Billah Syekh M. Zaini Abd. Ghani adalah seorang ulama yang menghimpun antara thariqat dan haqiqat, dan beliau seorang yang Hafazh AI-Quran beserta hafazh Tafsirnya, yaitu Tafsir Al-Quran Al-‘Azhim Lil-Imamain Al-Jalalain. Beliau seorang yang “mahfuzh”, yaitu suatu keadaan yang sangat jarang sekali terjadi, kecuali bagi orang orang yang sudah dipilih oleh Allah SWT. beliau tidak pernah ihtilam.

    Pada usia 9 tahun di malam jumat beliau bermimpi melihat sebuah kapal besar turun dari langit. Di depan pintu kapal berdiri seorang penjaga dengan jubah putih dan di gaun pintu masuk kapal tertulis “Safinah al-Auliya”. Beliau ingin masuk, tapi dihalau oleh penjaga hingga tersungkur. Beliaupun terbangun. Pada malam jum’at berikutnya, beliau kembali bermimpi hal serupa. Dan pada malam jumat ketiga, beliau kembali bermimpi serupa. Tapi kali ini beliau dipersilahkan masuk dan disambut oleh salah seorang syaikh. Ketika sudah masuk beliau melihat masih banyak kursi yang kosong. Ketika beliau merantau ke tanah Jawa untuk mencari ilmu, tak disangka orang yang pertama kali menyambut beliau dan menjadi guru adalah orang yang menyambut beliau dalam mimpi tersebut.

    Dalam usia 10 tahun sudah mendapat khususiat dan anugerah dari Tuhan berupa Kasyaf Hissi yaitu melihat dan mendengar apa-apa yang ada di dalam atau yang terdinding. Pernah rumput-rumputan memberi salam kepada beliau dan menyebutkan manfaatnya untuk pengobatan dari beberapa penyakit, begitu pula batu-batuan dan besi.


  18. Assalamu’alaikum. Wr. Wb. Alhamdulillah, menambah lagi wawasan saya. terima kasih semuanya. wassalamu’alaikum Wr. Wb.


  19. Sayyidina Abubakar Ash-Shiddiq RA. adalah “orang kedua dari dua orang” di Gua Hira….!!!! pertanyaannya…apa saja yang dilakukan BELIAU_BELIAU BERDUA…???? “seluruh isi dadaku telah AKU limpahkan kepda Abubakar….!!!! tak mungkid BELIAU BERDUA “main catur”…!!!! Yang jelas talqin dzikir sirr/khafi telah diajarkan RASULULLAH SAW kepada SDN>ABUBAKAR ASH-SHIDDIQ dan “tenaga-dalamNYA”/NUR=NYA telah dilimpahkan pula NURUUN ‘ALAA NURIIN (AN-NUUR;35)…yang nerupakan WASILAH…JADI….CARILAH “ORANG” yang didalam RUHANInya berisi NURUUN ‘ALAA NURIIN yang dilimpahkan kepada “ORANG-ORANG PILIHAN” secara TURUN-TEMURUN(AL-MAIDAH;35)…coba anda renungkan dalam-dalam SHALAT TAHAJJUD&ISTIKHARAH LAH mohon petunjuk-hidayah ALLAH SWT DAN SYAFA’AT RASULULLAH SAW SELAMAT BERJUANG MENCARI….!!!!!


  20. lakukanlah semua itu karena ALLAH bukan karena keinginan pribadi.lepaskanlah segala keinginan diri sehingga yang ada hanya keinginan WUJUD.


  21. alhamdulillah ini sangat berguna,tapi sayang tasauf sudah mulai hilang dari kalangan muda kita………,


  22. yang namanya tarekat itu ilmu tasawuf yaitu yang berhubungan dengan ilmu atau pengolahan ruh atau lebih mudahnya disebut ilmu rasa atau sir!!. jadi menurut saya amalan dzikirruloh sangat tinggi dimensinya dan mulia tapi kalau mengenai amalannya setahu saya harus melalui proses khusus yang langsung di turunkan seorang Mursyd/guru jadi tidak bisa sembarangan di upload sembarangan. saran jagalah zikirulah


  23. yang namanya tarekat itu ilmu tasawuf yaitu yang berhubungan dengan ilmu atau pengolahan ruh atau lebih mudahnya disebut ilmu rasa atau sir!!. jadi menurut saya amalan dzikirruloh sangat tinggi dimensinya dan mulia tapi kalau mengenai amalannya setahu saya harus melalui proses khusus yang langsung di turunkan seorang Mursyd/guru jadi tidak bisa sembarangan di upload sembarangan. saran jagalah zikirulah dengan adab yang benar. karena zikirlulah ini bukan milik kita atau milik guru kalian semua tapi milik Rasul yang di berikan oleh Allah Swt.


  24. satu bendera nur muhammad


  25. nurrun ala nurrin


  26. perdlm thariqah utk menyucikan hati kita.


  27. Aku bukanlah menurut si polan dan si polin, Aku menurut diriKu sendiri. Dan seseorang mengenal Aku hanya sebatas izinKu. jika seorang membenci sesuatu akan mencari kekurangannya. jika seorang menyukai sesuatu akan mencari kelebihannya.


  28. menurut saya banyak yang mengenal tasawuf hanya berdasarkan pada pemahaman belaka. padahal tasawuf apalagi menginjak pada tataran hakekat makrifatulloh tidak bisa hanya di bicarakan saja. karena pasti akan menimbulkan pro & kontra. maka dari itu wahai sodaraku para pencari Tuhan. marilah di lakoni apa yang menjadi tuntunan rosululloh dengan baik……..


  29. Benarkah Kanjeng Nabi Saw tidak mengajarkan tasawuf,..?!

    Kepada siapakah Kanjeng Nabi Muhammad Saw untuk pertama kalinya mengajarkan tasawuf,..?!

    Benarkah tasawuf selamatan kematian 7hari, 49 hari, 100 hari, 1000 hari (tahlil) itu berasal dari ajaran Buddha,..?!



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: