h1

Sesama Rabbi Yahudi, Berdebat Seru tentang Nabi

Mei 3, 2008

Baru kali ini saya menyaksikan, dua orang Rabbi Yahudi, satu dari Israel, satunya lagi dari Denmark, berdebat seru dan ngotot tentang Nabi kita tercinta Shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Rabbi Israel mengerahkan ayat-ayat dalam kitab yang diyakininya sebagai Taurat, dan menyimpulkan bahwa kitab agama Yahudi itu tidak mengakui kenabian Muhammad SAW, sehingga kebenaran agamanya juga ditolak. Sedangkan yang dari Denmark juga menggunakan kitab yang sama, ngotot habis-habisan menyatakan bahwa Muhammad SAW adalah seorang nabi utusan Tuhan. Subhanallaah.
Pemandangan seru itu saya saksikan di kota Seville, salah satu bagian dari wilayah Islam Andalusia, Spanyol. Di tahun 1492, kaum Muslimin dan Yahudi di negeri ini dipaksa memilih: memeluk agama Katolik, atau dibantai habis tak pandang bulu. Minggu lalu, 514 tahun sesudah pembantaian kejam itu, saya menghadiri Konferensi Internasional Ulama Islam dan Yahudi untuk Perdamaian di Seville (19-23 Maret 2006). Konferensi ini adalah yang kedua kalinya dan dikelola oleh Hommes de Parole, sebuah organisasi NGO yang bergerak di bidang hubungan Muslim-Yahudi. Konferensi I dilangsungkan bulan Januari 2005 lalu di Brussel. Sekitar 200-an ulama Islam dan Yahudi dari berbagai penjuru dunia serta lebih seratus peninjau maupun para ahli dari kalangan agama lain dan akademis hadir serta dalam acara tersebut.

Dibuka oleh raja Spanyol dan dihadiri oleh Pangeran Hassan dari Jordania, selama tiga hari itu, para ulama Islam dan Yahudi duduk bersama membahas kemungkinan-kemungkinan jalan keluar dari berbagai konflik yang ada di antara mereka. Saya bersama empat teman lainnya dari Amerika Serikat, termasuk Imam Muzammil Siddiqui (mantan President ISNA, Islamic Society of North America), diundang dalam kapasitas sebagai peserta utama (main participants) yang diharapkan memberikan masukan-masukan selama konferensi berlangsung. Sedangkan dari Palestina, ada sekitar 7 orang peserta dan Israel mengutus sekitar 9 Rabbi dan pengamat.

Tanpa mengingkari adanya hal-hal positif dari pertemuan itu, saya melihatnya tidak lebih dari sebuah “basa-basi” politik ketimbang murni sebagai upaya untuk mencari solusi dari permasalahan Muslim dan Yahudi. Minimal ada dua alasan saya menyimpulkan seperti itu:

Pertama, dari kalangan Yahudi nampak terwakili secara baik. Hampir semua “Chief Rabbi” dari berbagai negara, termasuk Israel dan negara-negara Eropa, diundang sebagai peserta utama. Tapi dari kalangan Islam, selain tidak mewakili kaum Muslimin secara merata, termasuk tidak mengundang ulama-ulama dari negara-negara Muslim selain Arab, seperti Indonesia, Malaysia, Pakistan, Bangladesh, dan lain-lain, juga yang diundang nampaknya bukan ulama-ulama yang berkaliber internasional.

Kedua, agenda bahasan selama konferensi tidak menyentuh hal-hal yang dianggap sebagai “the heart of all issues” (jantung permasalahan), yaitu issu Al-Quds (Jerussalem) dan Palestina. Padahal semua menyadari bahwa kerenggangan antara kaum Muslim dan Yahudi tidak disebabkan oleh perbedaan agama, melainkan karena Yahudi dipandang sebagai penjajah. Issu inilah yang kemudian menjadikan delegasi Palestina bersikukuh untuk dibahas, walau terkadang nampak keluar dari konteks pertemuan. Pada hari pertama bahkan terjadi “walk out” dari mereka karena masalah Palestina tidak dimasukkan dalam agenda pembahasan selama tiga hari itu.

Namun demikian, pertemuan tersebut memiliki makna positif tersendiri, mengingat

kompleksitas permasalahan yang dihadapi umat manusia. Salah satunya adalah adanya persamaan pendapat tentang bahaya laten “sekularisme-liberalisme” yang mengancam sendi-sendi kehidupan beragama di seluruh penjuru dunia, khususnya di dunia barat. Dalam hal ini, hampir semua ulama, baik Muslim maupun Yahudi sependapat. Chief Rabbi dari Jerman misalnya mengatakan, lebih 65% Yahudi di Jerman tidak mengimani Tuhan. Sebaliknya, agama tidak lebih dari sebuah “cultural affiliation” (ikatan budaya) bagi anak-anak muda.

Pada hari pertama dibahas tentang “Woman, Family Modernity” (peranan wanita, keluarga dalam menjaga integritas agama dalam konteks dunia modern). Walau ada perbedaan-perbedaan dalam melihat teknikalitas pendekatan kepada “gender issue”, kedua pihak sepakat bahwa masing-masing agama telah memberikan hak-hak yang sesuai kepada kaum hawa. Ulama Yahudi dalam sesi ini banyak belajar dari sejarah Rasulullah SAW dalam memberdayakan kaum wanita. Bahkan banyak diantara mereka yang kemudian meminta agar konsepsi pemberdayaan wanita Islam ini diperkuat di kalangan dunia Barat, sehingga mereka sadar dari dua kesalahan:

Pertama, kesalahan tentang konsepsi emansipasi wanita. Di mana wanita, atas nama kebebasan (women emancipation) terjatuh kembali ke dalam perbudakan baru yang tertutupi oleh apa yang disebut sebagai “modernity”. Wanita menjadi budak komsumerisme, dan tanpa disadari kembali menjadi “object” seperti masa-masa lalu.

Kedua, dunia Barat masih menganggap bahwa wanita dalam Islam belum menemukan kebebasan. Dan biasanya “judgment” (penilaian) ini lebih disebabkan oleh kasus-kasus yang terjadi di negara-negara Muslim. Untuk itu, disepakati bahwa dalam melihat ajaran agama, diperlukan kecermatan sehingga tidak mencampurbaurkan antara praktik-praktik budaya dengan ajaran universal agama itu sendiri.

Pada hari kedua dibahas mengenai “Islam-phobia dan anti Semitism” dengan cukup seru. Masing-masing pihak merasa “victims” dari sikap anti pihak lain ini. Namun pada akhirnya, disepakati bahwa tanpa mengingkari adanya perbedaan-perbedaan diantara kedua pihak, ternyata dari sudut pandang teologis, Islam dan Yahudi memiliki kedekatan persepsi. Untuk itu, diperlukan kesadaran untuk memandang semua permasalahan pada tempatnya yang (appropriateness) sehingga tidak mecampuradukkan antara berbagai issu yang ada. Sebab jika ini terjadi, maka tidak akan ditemukan celah untuk melangkah ke arah rekonsiliasi dalam rangka mencari solusi dari issu-issu yang lebih mendasar.

Yang menarik pada hari kedua ini, diskusi dipandu seorang Pendeta Israel dengan bahasa Arabnya yang kental mengutip ayat-ayat Al-Qur’an. Bahkan di saat membuka acara, sang pendeta mengucapkan salam dengan “uhayyikum tahiyyatal ambiya, min Musa wa Isa, wa Muhammad” (saya mengucapkan salam penghormatan kepada kalian dengan salamnya para nabi, dari Musa, ‘Isa, dan Muhammad): “Assalamu’alaikum Warahmatullah Wabarakatuh”.

Hari ketiga didesain untuk sebuah acara interaksi diskusi secara berkelompok dengan nama “Open Space”. Dalam acara ini masing-masing kelompok bebas menentukan topik diskusi masing-masing, yang pada akhirnya disampaikan dalam pertemuan paripurna. Salah satu yang menarik dari kelompok-kelompok diskusi itu adalah issu “Pengakuan Agama lain dan Kebenaran Absolut”. Hampir semua sepakat bahwa masing-masing agama mengharuskan pengikutnya meyakini kebenarannya secara absolute, tanpa mengurangi rasa hormat kepada keputusan orang lain untuk mengambil keputusan dalam keyakinannya.

Satu hal yang menarik dari pembahasan ini adalah perbedaan pendapat yang tajam antara seorang profesor dari Israel dan Chief Rabbi dari Denmark. Ketika sampai pada pambahasan tentang Nabi Muhammad SAW, Profesor dari Israel ini bersikukuh bahwa Kitab Taurat tidak mengakui adanya Nabi Muhammad, maka tidak ada alasan untuk menerima kebenaran ajarannya. Sedangkan Chief Rabbi dari Denmark, selain menyampaikan argumentasi-argumentasi logis, juga menyampaikan alasan-alasan teologis dengan mengutip ayat-ayat dalam bahasa Ibrani yang mirip ayat-ayat Al-Qur’an, mendukung kebenaran Rasul Islam.

Kelompok lain yang cukup seru pada acara “Open Space” ini adalah kelompok yang mebahas sebuah topik berjudul “Two States, One Goal”. Tentunya dimaksudkan Palestina dan Israel dengan tujuan sama, hidup damai sebagai tetangga. Hampir semua delegasi Palestina hadir dalam acara ini. Nampak juga beberapa Rabbi dari Israel. Yang menarik, walau di antara mereka terjadi perdebatan sengit dan menceritakan masing-masing penderitaan di masing-masing pihak, mereka saling melempar senyum dan persahabatan. Salah satu kesimpulan sebagai “action plan” dari kelompok ini adalah perlunya kunjungan timbal balik antara ulama Islam Palestina ke Israel dan Ulama Yahudi ke Palestina.

Konferensi II Ulama Islam dan Yahudi ditutup pada hari ketiga sore hari dengan berbagai acara, antara lain, pidato dari Walikota Seville dan atraksi musik Spanyol yang memiliki lirik musik yang persis dengan musik Timur Tengah. Yang menarik pula adalah pernyataan Walikota Seville yang mengatakan, “Tentu kita menyesali pemaksaan pemeluk agama lain (Muslim dan Yahudi) di masa lalu ke dalam agama Katolik. Juga diakui bahwa keindahan dan kemasyhuran Spanyol dan Seville adalah karena kontribusi “musalman” (kaum Muslim) di masa lalu.”

Perjalanan singkat saya ke Spanyol menumbuhkan perasaan konflik dalam dada. Di satu sisi saya sedih melihat pengalaman-pengalaman pahit perjalanan sejarah yang yang suram itu, tapi juga bangga dengan pencapaian-pencapaian yang pernah dihasilkan oleh anak-anak umat ini. Tentunya, kebanggaan ini bukan semata kebanggaan sejarah. Tapi semoga menjadi pemacu dalam melakukan langkah-langkah besar lagi dalam upaya meraih kembali kejayaan di masa silam tersebut. Hanya dengan doa dan kerja keras dalam naungan iman kepada Pencipta, jiwa optimisme itu semakin bersinar. Semoga “the land of Sun Shine” (Spain) ini akan tersinari kembali oleh cahaya kebenaran yang pernah menyinari lorong-lorong Kordoba, Granada, dan Seville di masa lalu.

oleh M. Syamsi Ali

Penulis Imam Masjid Islamic Cultural Center of New York . Tulisan ini dimuat http://www.hidayatullah.com

Sumber

http://hidayatullah.com/index.php?option=com_content&task=view&id=2959&Itemid=57

One comment

  1. artinya sudah ada i’tikat untk mempertemukan agama samawi, hanya butuh strategi dan pendekatan yang intens yang didasari keihlasan dan husnuz zon wass



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: