h1

Film

4 komentar

  1. Juli 6, 2007 oleh suandana

    Akhir-akhir ini, banyak yang memprotes para produsen sinetron Indonesia yang dianggap telah kehilangan daya kreatif sehingga akhirnya menyadur film yang diproduksi orang luar. Tapi, sebenarnya, bagaimana sih cara membuat film itu? Posting ini bukan sebuah pembelaan, dan bukan pula sebuah hujatan baru. Hanya ingin menunjukkan… Begini lho, caranya membuat film. Hitung-hitung, sebagai materi tambahan buat anak-anak saya di sekolah…

    Pada dasarnya, membuat film itu dapat dibagi ke dalam 14 tahapan. Apa saja?

    1. IDE

    Idealnya, IDE ini harus unik dan original. Tapi, memutuskan untuk menyadur sebuah karya orang lain itu juga termasuk sebuah IDE lho… Untuk mencari IDE, banyak cara yang bisa dilakukan. Melakukan pengamatan terus-menerus, jalan-jalan ke tempat yang aneh dan belum pernah didatangi manusia, nangkring di pohon asem di pinggir jalan sambil mengamati kendaraan yang lalu lalang, atau bahkan duduk santai di sebuah food court di suatu plaza atau mall. Melamun sendirian di dalam kamar juga bisa mendatangkan ide, kok…

    2. Sasaran

    Setelah mendapatkan IDE, tentukan sasaran dari film yang akan dibuat. Koleksi pribadi? Murid SMU? Komunitas S&M? Para Otaku? Para Blogger? Siapa yang akan menonton film itu nantinya? Itu juga harus ditentukan dengan jelas di awal. Jangan sampai terjadi, film tersebut ditujukan untuk anak SMU tapi karena tidak disosialisasikan dengan jelas, akhirnya dipenuhi adegan berantem penuh darah ala 300

    3. Tujuan

    IDE dan Sasaran sudah ditetapkan. Yang harus dipastikan selanjutnya adalah tujuan pembuatan film. Ingin menggugah nasionalisme seperti Naga Bonar? Ingin menyampaikan pesan terakhir sebelum nge-bom? Ingin mendapatkan kepuasan pribadi seperti pembuatan film Passion of the Christ? Apa?

    4. Pokok Materi

    Berikutnya adalah menyusun pokok materi. Apa sih pesan yang ingin disampaikan? Ungkapan cinta? Sekedar pesan mengingatkan bahaya merokok?

    5. Sinopsis

    Sinopsis adalah ringkasan yang menggambarkan cerita secara garis besar. Semacam ide awal gitu loh. Dari sinopsis ini, nantinya bisa dikembangkan menjadi cerita yang lebih detil.

    6. Treatment

    Tahapan ini adalah penggambaran adegan-adegan yang nantinya akan muncul dalam cerita. Tidak mendetil. Contoh treatment itu seperti ini…

    Ada seorang perokok yang sedang merokok dengan santainya. Kemudian tiba-tiba dia batuk-batuk dengan hebat dan agak lama. Sebelum beranjak pergi, orang itu membuang rokoknya sembarangan. Tiba-tiba muncul api…

    7. Naskah

    Naskah adalah bentuk mendetil dari cerita. Dilengkapi dengan berbagai penjelasan yang mendukung cerita (seting environment, background music, ekspresi, semuanya…). Contoh naskah itu, seperti ini…

    FS. Ali mengayuh becak. Ais duduk merenung, tidak mempedulikan Ali yang bolak-balik menatapnya.

    Ali : Dak usah dipikir lah, Mbak…

    Ais : (kaget) Heh? Apa, Bang?

    8. Pengkajian

    Pengkajian disini, adalah yang dilakukan oleh seorang ahli isi (content) atau ahli media. Yang dikaji, adalah apakah naskahnya sudah sesuai dengan tujuan semula? Dan hal-hal yang mirip seperti itu…

    9. Produksi Prototipe

    Proses ini dibagi jadi 3 sub-tahap, yaitu pra-produksi (penjabaran naskah, casting pemain, pengumpulan perlengkapan, penentuan dan pembuatan set, penentuan shot yang baik, pembuatan story board, pembuatan rancangan anggaran, serta penyusunan kerabat kerja), produksi (pengambilan gambar sesuai dengan naskah dan improvisasi sutradara), purna-produksi (intinya adalah editing).

    10. Uji coba

    Uji coba ini dilakukan dengan memutar prototipe di hadapan sekelompok kecil orang. Kalau produsen film besar, biasanya melakukan ini di hadapan para kritikus. Tujuannya adalah untuk mengetahui respon dari calon audiens.

    11. Revisi

    Setelah ada respon, maka dilakukan perubahan jika diperlukan. Karena itu lah, banyak film yang memiliki deleted scenes. Itu diakibatkan proses uji coba dan revisi ini.

    12. Preview

    Preview itu adalah pemutaran perdana, di hadapan para ahli isi, ahli media, sutradara, produser, penulis naskah, editor, dan semua kru yang terlibat dalam produksi. Tujuan dari preview ini adalah untuk memastikan apakah semuanya berjalan lancar sesuai rencana atau ada penyimpangan. Bisa dikatakan, bahwa preview ini adalah proses pemeriksaan terakhir sebelum sebuah film diluncurkan secara resmi.

    13. Pembuatan Bahan Penyerta

    Bahan Penyerta itu adalah poster iklan, trailer, teaser, buku manual (jika film yang dibuat adalah sebuah film tutorial), dan lain sebagainya yang mungkin dibutuhkan untuk mensukseskan film ini.

    14. Penggandaan

    Tahap terakhir adalah penggandaan untuk arsip dan untuk didistribusikan oleh para Joni (ini terjadi pada jaman dulu kala, waktu format film digital masih ada di angan-angan).

    Nah, demikian lah proses produksi sebuah film. Dari awal sampai akhir, siap untuk didistribusikan. Jadi, apa lagi yang ditunggu? Mari kita produksi film-film berkualitas agar tidak dikatakan bahwa sineas Indonesia telah kehilangan kreatifitas dan tidak bisa memproduksi karya orisinil lagi. SEMANGAT!!!

    http://suandana.wordpress.com/2007/07/06/14-langkah-membuat-film-sendiri/


  2. KRAKTER
    Written by Andhi Pramudya W
    Tuesday, 04 March 2008

    Penonton akan tertarik menyaksikan sebuah film kalau tokohnya menarik. Artinya, tokoh cerita bukanlah tokoh biasa namun dapat diterima oleh penonton.
    Apakah tokoh itu harus riil?
    Siapa yang bisa bilang tokoh Rambo, McGyver, atau tokoh James Bond itu riil? Mereka hanya diterima oleh imajinasi penonton saja. Justru tokoh yang betul-betul nyata terkadang malah sulit diterima penonton karena tidak adanya informasi yang mendukung yang dapat membuatnya menarik.
    Penonton bisa dibuat tertarik pada tokoh apabila karakterisasi tokoh yang dibuatnya jelas. Secara umum pokok informasi mengenai tokoh yang perlu diungkapkan kepada penonton adalah meliputi:
    1. ciri khas fisik/biologis
    2. ciri khas psikis
    3. ciri khas pikiran
    4. ciri khas kultural

    Satuhal guy’s yang kadang dilupakan oleh film maker terutama kita yang berjalan di indifilm yaitu isi cerita, karena biasanya kita selalu terlena dengan yang namanya teknik pengambilan gambar kita lebih condong ke yang namanya jenis kamera, pencahayaan yang harus sempurna dan juga editing yang keren hingga menghasilkan membengkaknya si biaya produksi, memang itu semua penting tapi yang lebih pentinglagi isi cerita bukannya begitu bukan berarti biaya produksi mahal menjadikan film tersebut bagus, ingat bannyak film hollywod yang biayanya besar tapi isinya basi yakan.

    Jadi jangantakut apabila ingin membuat film, siapa bilang film harus mahal karena seni dan kreatifitas tidak ada batasannya.

    SINEMATOGRAFI”
    Written by Andhi Pramudya W
    Wednesday, 27 February 2008

    Ada beberapa istilah perfileman yang kita tidak tau apa itu artinya salah satunya “sinematografi” sebenarnya orang banyak sekali membicarakan mengenai sinematografi itu sendiri namun banyak pula yang kurang paham akan hal tersebut, sebenarnya apa sih “sinematografi” itu sendiri?

    Sinematografi adalah kata serapan dari bahasa inggris Cinematograhy yang berasal dari bahasa latin kinema ‘gambar’. Sinematografi sebagai ilmu serapan merupakan bidang ilmu yang membahas tentang teknik menangkap gambar dan menggabung-gabungkan gambar tersebut hingga menjadi rangkaian gambar yang dapat menyampaikan ide (dapat mengemban cerita).

    Sinematografi memiliki objek yang sama dengan fotografi yakni menangkap pantulan cahaya yang mengenai benda. Karena objeknya sama maka peralatannya pun mirip. Perbedaannya Fotograpfi menangkap gambar tunggal, sedangkan sinematografi menangkap rangkaian gambar.

    Penyampaian ide pada fotografi memanfaatkan gambar tunggal, sedangkan pada sinematografi memanfaatkan rangkaian gambar. Jadi sinematografi adalah gabungan antara fotografi dengan teknik rangkaian gambar atau dalam senematografi di sebut montase (montage)

    Sinematografi sangat dekat dengan film dalam pengertian sebagai media penyimpanan maupun sebagai genre seni. Film sebagai media penyimpanan adalah pias (lembaran kecil) selluloid yakni sejenis bahan plastik tipis yang dilapisi zat peka cahaya.Benda inilah yang selalu digunakan sebagai media penyimpanan di awal pertumbuhan sinematografi.

    Untuk lebih lengkap bisa dilihat di

    Heru Efendy,2002,Mari Membuat Film,Panduan Menjadi Produser,Yogyakarta:Panduan

    Askurifai Baksin,2003,Membuat film indie itu gampang, Bandung Katarsis

    Mungkin ini dapat sedikit menambah wawasan mengenai istilaf film, tapi apapun istilahnya apapun hukumnya dalam pembuatan film harus keluar dari dalam hati dan berani karena itu semua adalah seni.

    Dubbing
    Written by Derry Susanto
    Friday, 11 April 2008
    Perekaman suara manusia secara sinkron dengan gambar film. Suaranya dimungkinkan berasal dari aktor yang sesungguhnya atau orang lain, baik dengan bahasa yang digunakan saat film diproduksi atau bahasa asing sebagai terjemahan. Dubbing biasanya diselesaikan denggan menggunakan film loops – bagian pendek dari sebuah gambar beserta dialognya dalam bentuk married print-. Aktor menggunakan gambar dan sound track playback sebagai panduan untuk mensinkronisasikan gerakan bibir dalam gambar dengan perekaman suara baru. Umumnya digunakan untuk memperbaiki perekaman asli yang buruk, performa artistik yang tidak dapat diterima atau kemungkinan kesalahan dalam dialognya. Juga digunakan untuk perekaman lagu dan versi bahasa lain setelah proses

    WORKSHOP PENYUTRADARAAN
    Written by Ery Muhtar Muhammad
    Thursday, 12 June 2008
    WORKSHOP PENYUTRADARAAN

    Slamet Rahardjo Djarot,

    Lahir di Serang 21 januari 1949, setelah manamatkan pendidikan SMA nya, ia melanjutkan ke Akademi Teater Nasional Indonesia (ATNI). Slamet mengambil bidang penyutradaraan disini. Pada tahun 1968, bersama dengan Teguh karya, salah satu sutradara terkemuka Indonesa, mendirikan Teater Populer yang kemudian menjadi salah satu teater terpopuler di Indonesia.

    Slamet telah berperan dalam banyak naskah, Nikolai Gogol, Garcia Lorca, George Buchner, Bertolt Brecht, Anton Chekov, Strindberg dan masih banyak lagi, di televisi maupun di panggung. Akingnya yang mengesankan dlm “Jayaprana” yang ditulis Jeff Last, hmembuktikan kepiawaiannya sebagai aktor. Slamet Rahardjo memulai karir filmnya pada tahun 1971 di film Karya Teguh karya “Wajah Seorang Laki-laki” (Ballad of a Man).

    karya penyutradaraanya yang pertama di panggung adalah, “The False Hair” adaptasi dari Checkoslovakian play oleh Peter Karvas, yang menganugrahinya Best Stage Director Festiva Teater Mahasiswa. “Rembulan dan Matahari” (The Moon and The Sun) 1980 Menjadi Karya FIlm pertamanya sebagai Sutradara. di Film ini Slamet mendapatkan penghargaanPiala Citra FFI sebagai Sutradara Terbaik.
    Read More
    Add Comment (1)

    LA Lights INDIE MOVIE and MEET THE PRODUCERS 2, 2008.
    Written by Ery Muhtar Muhammad
    Tuesday, 10 June 2008
    DISTRIBUSI, FUNDRISING, NETWORKING INDIE FILMMAKER DIBUKA SELUAS-LUASNYA!

    BINGUNG MENDANAI/MENDISTRIBUSIKAN FILM-FILM BUATAN KAMU?
    Gabung di LA Lights INDIE MOVIE and MEET THE PRODUCERS 2, 2008.
    Bandung 19-20 Juli. Creative Short Film Workshop bersama John De Rantau, Titien Wattimena, Monty Tiwa, Alexis Tioseco (Philipines), Wulan Guritno, Djenar Maesa Ayu, Arturo GP, Agung Sentosa serta jejaring filmmaker asia akan sharing materi dan encouragement kepada peserta. Sebuah kesempatan untuk INDIE FILMMAKERS GUIDE TO GLOBAL NETWORK, membangun jejaring dengan festival internasional. Di sinilah cakrawala distribusi, fundrising dan networking independent filmmaker dibuka seluas-luasnya.

    Kontak: SEMBILANMATAHARI 022-91690093 dan 022-91584576
    Read More
    Add Comment (0)

    KICKSTART! 2008
    Written by Ery Muhtar Muhammad
    Friday, 30 May 2008
    PEDOMAN PENDAFTARAN PESERTA
    var curDiv = document.getElementById(‘ln0’); curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML); var links = curDiv.getElementsByTagName(‘a’); for(var i = links.length; i >= 0; –i) { if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + “…”; }
    KICKSTART! 2008
    GAMBARAN PROGRAM

    KickStart! adalah program pelatihan dan produksi film dokumenter bagi pemula. Pada tahun 2008 akan dilaksanakan In-Docs di Surabaya, Jawa Timur, bekerja sama dengan mitra lokal Interlude. Program ini bertujuan untuk mengembangkan dan meningkatkan kemampuan sumber daya film dokumenter, serta mengasah kepekaan masyarakat terhadap masalah-masalah yang dihadapi mereka di lingkungan masing-masing dengan menggunakan medium film dokumenter.

    Pendaftaran KickStart! dibuka untuk 2 kategori: Periset dan Kamerawan. Baik periset maupun kamerawan mendaftarkan diri secara terpisah. Para periset disyaratkan memiliki ide cerita dengan topik/subjek yang berlokasi di Jawa Timur. Periset ini nantinya akan menjadi sutradara film dari ide cerita yang terpilih, dan akan bekerja sama dengan pelamar kamerawan yang terpilih (pembagian kelompok kerja akan ditentukan oleh In-Docs).

    Peserta KickStart! akan dipandu oleh tutor dan produser. Di dalam pelatihan, peserta akan dibimbing untuk membangun ide dasar menjadi sebuah gagasan yang siap diproduksi. Peserta kemudian diberikan kesempatan untuk meriset ulang topik/subjek, sebelum memulai tahap produksi. Dua orang supervising producer yang akan memberikan bimbingan langsung di lapangan saat shooting. Seusai shooting, peserta akan dibantu oleh editor profesional untuk mengedit film.
    ——————————–
    http://www.rollingaction.com/portal/index.php?option=com_frontpage&Itemid=1&limit=4&limitstart=8 – 60k – Tembolok – Halaman sejenis


  3. http://republika.co.id/launcher/view/mid/21




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: